Horas!
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melaporkan adanya 62 kasus flu varian terbaru yang dikenal sebagai Super Flu subclade K hingga 25 Desember 2025. Berdasarkan data yang dihimpun, kelompok yang paling banyak terinfeksi varian ini adalah perempuan dan anak-anak.
Super Flu subclade K merupakan bagian dari virus influenza A (H3N2). Varian ini tengah menjadi sorotan global karena mengalami lonjakan kasus signifikan di Amerika Serikat dan diduga memiliki daya penularan lebih tinggi dibandingkan influenza A pada umumnya.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Nastiti Kaswandani, SpA, SubspRespi(K), menjelaskan bahwa subclade K memiliki kemampuan evolusi yang cukup cepat sehingga mudah mengalami mutasi.
Menurutnya, karakteristik tersebut membuat varian ini berpotensi memicu wabah influenza dalam skala besar, terutama di negara-negara dengan musim dingin yang panjang dan ekstrem.
“Varian ini berpotensi menyebabkan lonjakan kasus influenza massal, sehingga banyak pasien membutuhkan perawatan di rumah sakit dan memicu peningkatan kebutuhan alat kesehatan serta obat-obatan,” ujar dr Nastiti.
Secara klinis, gejala yang ditimbulkan Super Flu tidak jauh berbeda dengan influenza A lainnya, seperti demam tinggi, menggigil, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan. Namun, dr Nastiti menegaskan bahwa varian ini tidak bisa dikenali hanya melalui pemeriksaan fisik.
“Dokter bahkan tidak bisa membedakan secara kasat mata apakah itu influenza biasa atau subclade K. Dugaan hanya bisa dilakukan secara klinis karena gejalanya mirip,” jelasnya.
Influenza sendiri merupakan penyakit infeksi yang sangat mudah menular. Penularan dapat terjadi melalui percikan droplet saat batuk atau bersin, serta melalui permukaan benda yang terkontaminasi virus.
“Virus bisa menempel di meja atau benda lain, lalu berpindah melalui tangan, tisu, atau sapu tangan, sehingga membentuk rantai penularan,” tambahnya.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa Super Flu menyebabkan penyakit yang lebih berat dibandingkan varian influenza lainnya. Vaksin influenza yang tersedia juga masih dinilai efektif dalam menurunkan risiko penularan dan keparahan penyakit.
“Belum ada bukti bahwa subclade ini kebal terhadap imunisasi atau tetap menyebabkan infeksi berat pada orang yang sudah divaksin,” pungkas dr Nastiti.
Masyarakat diimbau tetap waspada dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, menggunakan masker saat sakit, serta mempertimbangkan vaksinasi influenza sebagai langkah pencegahan.


