Ilustrasi peta kolonial (via AI ChatGPT).
Ilustrasi peta kolonial (via AI ChatGPT).
Beranda Budaya Menelusuri Jejak Kerajaan Aru di Tanah Karo yang Hampir Terlupakan
Budaya

Menelusuri Jejak Kerajaan Aru di Tanah Karo yang Hampir Terlupakan

Bagikan

Horas! Mejuah-juah!

Nama Kerajaan Aru (Karo) mungkin tidak sepopuler kerajaan-kerajaan besar lain di Nusantara. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa kerajaan ini pernah menjadi kekuatan penting di Sumatra pada abad ke-13 hingga ke-15 Masehi, meski kini keberadaannya nyaris terlupakan.

Lantas, seperti apa jejak Kerajaan Aru di masa lampau? Ikuti kisahnya berikut ini.

Mengenal Kerajaan Aru

Dalam naskah Nagarakretagama, Kerajaan Aru—yang disebut sebagai “Haru”—dicatat sebagai wilayah yang berada di bawah pengaruh Kerajaan Majapahit. Hal ini mengindikasikan bahwa sebelumnya Aru merupakan kerajaan yang berdiri mandiri sebelum akhirnya masuk dalam orbit kekuasaan Majapahit.

Sementara itu, catatan Suma Oriental menggambarkan Aru sebagai salah satu kekuatan besar di Sumatra, dengan wilayah luas dan pelabuhan yang ramai disinggahi kapal-kapal asing. Bahkan, Tome Pires mencatat bahwa armada laut Aru cukup tangguh untuk mengontrol jalur pelayaran di Selat Malaka.

Dalam sumber Melayu klasik, Sulalatus Salatin, Kerajaan Aru disebut memiliki kedudukan yang sebanding dengan Kesultanan Malaka dan Kesultanan Samudra Pasai, menunjukkan betapa pentingnya posisi Aru dalam jaringan perdagangan dan politik kawasan saat itu.

Seiring waktu, pusat pemerintahan Kerajaan Aru diketahui berpindah-pindah. Beberapa sumber menyebut lokasinya pernah berada di wilayah Aceh, sebelum kemudian bergeser ke kawasan Sumatra Utara seperti Lingga, Barumun, hingga Deli Tua. Temuan arkeologi terbaru menguatkan bahwa pusat kerajaan ini pernah berada di Kota Rentang (Hamparan Perak), Kabupaten Deli Serdang pada abad ke-13 hingga ke-14, sebelum akhirnya berpindah ke Deli Tua akibat tekanan dari kekuatan Aceh.

Catatan dari Dinasti Yuan menyebut bahwa Kubilai Khan pernah meminta Kerajaan Aru untuk tunduk kepada Cina. Menanggapi hal tersebut, Aru memilih menjalin hubungan diplomatik dengan mengirim utusan sebagai tanda persahabatan.

Pada abad ke-15, menurut sejarawan Tuanku Luckman Sinar, Kerajaan Aru justru berkembang menjadi salah satu kekuatan terbesar di Sumatra. Pada masa ini, Aru mampu menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka, terutama ketika pengaruh Majapahit mulai melemah.

Beberapa sumber juga mengaitkan Aru dengan peristiwa ekspedisi Pamalayu yang dilakukan oleh Kertanegara pada akhir abad ke-13. Dalam perkembangan selanjutnya, Aru sempat berada di bawah kekuasaan Majapahit sekitar tahun 1365, sebagaimana dicatat dalam Nagarakretagama.

Masuknya Agama Islam

Dari sisi keagamaan, pengaruh Islam sudah masuk ke wilayah Aru sejak abad ke-13. Bahkan dalam Sulalatus Salatin disebutkan bahwa Aru lebih dahulu menerima Islam dibandingkan Pasai. Catatan perjalanan Ma Huan pada tahun 1416 juga menyebut bahwa raja Aru telah memeluk agama Islam.

Hubungan dengan Cina terus terjalin, salah satunya melalui pengiriman utusan oleh penguasa Aru bernama “Su-lu-tang Husin” pada tahun 1411. Sebagai balasan, Cina mengirim ekspedisi yang dipimpin oleh Cheng Ho untuk mengunjungi wilayah tersebut.

Kehidupan masyarakat Aru digambarkan cukup sederhana, dengan mata pencaharian utama sebagai nelayan, petani, dan peternak. Aktivitas perdagangan dilakukan dengan sistem barter, menukar hasil bumi dengan barang dari pedagang asing seperti keramik, kain sutra, dan manik-manik.

Meski pernah berjaya dan memainkan peran penting dalam sejarah maritim Nusantara, nama Kerajaan Aru kini kurang dikenal dibandingkan kerajaan besar lain seperti Sriwijaya, Singasari, dan Majapahit. Minimnya sumber populer membuat jejak Aru perlahan memudar dari ingatan kolektif, meski kontribusinya dalam sejarah Sumatra tetap signifikan.

Bagikan
ads image
ads image
ads image
Artikel Terkait
Potret titik nol Kota Medan di masa lampau (colorized by AI).
Budaya

Berawal Dari Belanda, Ternyata Ini Kisah Kedatangan Orang Batak ke Kota Medan

Horas! Kota Medan dikenal sebagai salah satu kota paling majemuk di Indonesia....

Mengapa Salam “Horas” Melekat dengan Medan?
Budaya

Mengapa Salam “Horas” Melekat dengan Medan? Begini Sejarah dan Latar Belakangnya

Horas! Kota Medan dikenal sebagai salah satu daerah di Indonesia yang identik...

Potret ulama Islam di Simalungun (dok.kitlv.nl, colorized by AI).
Budaya

Jejak Zending dan Sang Naualuh Damanik, Awal Tumbuhnya Toleransi di Tanah Simalungun

Horas! Wilayah Simalungun tidak hanya dikenal sebagai kawasan perkebunan yang berkembang pesat...

Sebuah rumah adat Simalungun di abad ke-20 (dok.kitlv.nl, colorized by AI).
Budaya

Pergeseran Agama dan Perubahan Sosial Pengaruhi Identitas Etnik Simalungun

Horas! Perubahan identitas etnik di tengah masyarakat Simalungun disebut tidak terlepas dari...