Wisata alam berbasis petualangan kini semakin menggeliat di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara. Salah satu yang tengah menjadi magnet baru bagi para pelancong adalah aktivitas canyoneering di Air Terjun Sisundung, Kecamatan Angkola Barat. Kehadiran destinasi ini tidak hanya menawarkan pengalaman liburan yang berbeda, tetapi juga membuka peluang besar bagi ekowisata di kawasan tersebut.
Decky, selaku pengelola wisata dari Komunitas Pecinta Alam (KPA) Forester, menjelaskan bahwa canyoneering memberikan pengalaman seru menuruni tebing curam tepat di bawah guyuran air terjun setinggi kurang lebih 23 meter dengan menggunakan tali. Walaupun tergolong wisata ekstrem yang memacu adrenalin, faktor keamanan tetap diutamakan.
“Aspek keselamatan adalah prioritas utama kami. Seluruh peserta diwajibkan menggunakan peralatan yang memenuhi standar keamanan dan selalu didampingi oleh instruktur yang ahli di bidang canyoneering,” ungkap Decky.
Mendapat Antusiasme Dari Masyarakat
Ternyata, wisata petualangan ini mendapat sambutan yang sangat antusias. Penikmatnya tidak terbatas pada kalangan pegiat alam bebas saja, namun juga masyarakat umum yang penasaran dan ingin mencoba tantangan baru di alam terbuka. Saking tingginya minat masyarakat, kuota untuk kegiatan yang rutin diadakan setiap akhir pekan ini bahkan sudah habis terpesan (fully booked) hingga akhir Juli 2026.
Bagi wisatawan yang tertarik menguji nyali, pengelola saat ini masih memberlakukan tarif promosi sebesar Rp95.000 per orang yang berlaku hingga akhir Juni 2026. Setelahnya, yakni mulai 1 Juli 2026, harga tiket akan kembali normal di angka Rp120.000 per orang.
Melihat respons positif ini, KPA Forester tidak ingin berhenti di satu titik. Mereka telah melakukan pemetaan dan survei ke beberapa lokasi lain yang tak kalah menjanjikan. Goa Aek Badak Julu di Kecamatan Sayur Matinggi dan Air Terjun Siadiasi di Desa Padang Lancat masuk dalam bidikan sebagai destinasi petualangan berikutnya guna memperkaya pilihan wisata di Tapsel.
Kendati memiliki potensi luar biasa, Decky mengakui bahwa langkah pengembangan wisata ini masih tersandung masalah infrastruktur, terutama akses jalan yang belum memadai menuju lokasi wisata.
Ke depannya, ia berharap wisata canyoneering ini mendapat dukungan perbaikan akses dan dapat dikelola secara berkelanjutan. Jika dipadukan dengan komitmen menjaga kelestarian lingkungan dan keselamatan pengunjung, destinasi ini diyakini mampu mendongkrak angka kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.


