Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus mengintensifkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di kawasan Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba sebagai langkah strategis menjaga ketersediaan sumber daya air sekaligus mengantisipasi dampak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih kering pada 2026.
Program yang berlangsung sejak awal April hingga awal Mei 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan air nasional, khususnya di kawasan Danau Toba yang memiliki peran penting bagi kebutuhan energi, pertanian, industri, hingga masyarakat sekitar.
Pelaksanaan operasi ini merupakan hasil kolaborasi antara BMKG, Perum Jasa Tirta I (PJT I), dan PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM). Sejumlah pejabat BMKG turut hadir dalam kegiatan tersebut, termasuk Kepala Balai MKG Wilayah I Hendro Nugroho, Penasehat Kepala BMKG Muslim Andri, serta Kepala Stasiun Meteorologi Silangit Gatot Rudiantoro.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa penguatan Operasi Modifikasi Cuaca menjadi salah satu perhatian pemerintah pusat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks. Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan agar kapasitas BMKG, khususnya dalam bidang modifikasi cuaca, terus ditingkatkan.
Ia menjelaskan bahwa penguatan teknologi dan infrastruktur pendukung, termasuk radar cuaca, menjadi aspek penting dalam mendukung keberhasilan operasi penyemaian awan. Peralatan tersebut berfungsi untuk memantau kondisi atmosfer secara akurat sehingga pelaksanaan OMC dapat dilakukan secara lebih efektif dan terukur.
Menurut Faisal, peningkatan frekuensi OMC tidak dapat dilepaskan dari ancaman perubahan iklim global yang berdampak langsung terhadap pola cuaca di Indonesia. Pada tahun 2026, Indonesia diperkirakan menghadapi potensi fenomena El Nino yang dapat memicu musim kemarau lebih panjang dengan curah hujan di bawah kondisi normal.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi ketersediaan air di berbagai wilayah, termasuk kawasan Danau Toba yang menjadi salah satu sumber daya air strategis nasional. Oleh karena itu, BMKG berkomitmen terus meningkatkan operasi modifikasi cuaca untuk menjaga debit air bendungan, mendukung pembangkit listrik tenaga air, serta mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan bahwa operasi di kawasan Danau Toba dirancang berlangsung selama 25 hari, mulai 9 April hingga sekitar 3 Mei 2026. Hingga akhir April, operasi telah berjalan selama 21 hari dengan total 33 kali penerbangan penyemaian awan atau sorti.
Menurutnya, pelaksanaan operasi masih menyisakan beberapa hari tambahan untuk mengoptimalkan target yang telah ditetapkan. BMKG terus memantau perkembangan kondisi atmosfer agar setiap penerbangan penyemaian dapat memberikan hasil yang maksimal.
Sementara itu, Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menyampaikan bahwa target waktu terbang dalam pelaksanaan OMC mencapai 50 jam. Hingga memasuki tahap akhir operasi, capaian kegiatan telah mendekati 87 persen dengan sisa waktu terbang yang masih dapat dimanfaatkan untuk mendukung keberhasilan program.
Evaluasi menyeluruh akan dilakukan setelah operasi selesai guna mengukur efektivitas pelaksanaan dan memastikan seluruh target yang direncanakan dapat tercapai sesuai kebutuhan.
Dari sisi pengguna manfaat, Direktur Utama Perum Jasa Tirta I, Fahmi Hidayat, mengapresiasi dukungan BMKG dalam menjaga keberlangsungan sumber daya air di kawasan Sungai Toba-Asahan. Menurutnya, keberadaan air yang cukup menjadi faktor penting dalam memenuhi kebutuhan berbagai sektor, mulai dari pembangkit listrik tenaga air, irigasi pertanian, kebutuhan rumah tangga, hingga sektor industri.
Ia menilai pelaksanaan OMC telah memberikan kontribusi nyata dalam menjaga stabilitas ketersediaan air di waduk dan tampungan yang dikelola perusahaan. Karena itu, PJT I berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara lebih rutin dan berkelanjutan.
Selain untuk mendukung sektor energi dan pengelolaan air, teknologi modifikasi cuaca juga dinilai memiliki potensi besar dalam membantu penanganan berbagai persoalan lingkungan, termasuk kekeringan dan banjir di berbagai daerah.
Sebelumnya, BMKG telah melakukan evaluasi pelaksanaan OMC di Posko OMC Siborong-borong pada 23 April 2026. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa operasi penyemaian awan memberikan kontribusi terhadap peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah tangkapan air Danau Toba, terutama di kawasan timur dan tenggara serta Pulau Samosir.
Peningkatan curah hujan tersebut berdampak positif terhadap bertambahnya aliran masuk (inflow) dan kenaikan tinggi muka air Danau Toba yang menjadi salah satu indikator keberhasilan operasi.
BMKG juga menegaskan bahwa pelaksanaan OMC tidak menjadi penyebab terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir maupun longsor. Berdasarkan hasil verifikasi yang dilakukan, sejumlah kejadian bencana yang sempat terjadi di beberapa wilayah tidak memiliki keterkaitan dengan aktivitas modifikasi cuaca.
Melalui program ini, BMKG berharap ketersediaan air di kawasan Danau Toba tetap terjaga sehingga mampu menopang kebutuhan masyarakat, industri, energi, dan sektor pertanian. Upaya tersebut sekaligus menjadi langkah antisipatif menghadapi potensi musim kemarau yang lebih panjang akibat pengaruh perubahan iklim global pada tahun 2026.


