Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan Indonesia akan menghadapi musim kemarau yang lebih kering dari kondisi normal sepanjang 2026. Situasi tersebut dipengaruhi oleh fenomena El Niño yang diprediksi bertahan hingga awal kuartal pertama 2027 dengan intensitas mencapai kategori kuat.
Selain El Niño, potensi munculnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada September hingga Desember 2026 diperkirakan semakin meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia.
BMKG Intensifkan Operasi Modifikasi Cuaca
Untuk mengurangi dampak musim kemarau ekstrem, BMKG memperluas pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kekeringan dan karhutla.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari strategi mitigasi bencana hidrometeorologi yang dilakukan secara terpadu bersama berbagai instansi.
Operasi penyemaian awan difokuskan untuk mengoptimalkan potensi hujan alami sebelum kondisi kekeringan semakin parah.
Lebih dari Separuh Wilayah Indonesia Sudah Memasuki Musim Kemarau
Berdasarkan pemantauan BMKG hingga pertengahan Juli 2026, lebih dari separuh wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen wilayah daratan telah mengalami musim kemarau. Sementara sebagian wilayah lainnya masih berada pada musim hujan maupun zona dengan karakteristik satu musim.
Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September 2026, dengan sebagian besar wilayah diprediksi mengalami curah hujan di bawah kondisi normal.
BMKG juga mencatat adanya hari tanpa hujan (HTH) yang cukup panjang di sejumlah daerah. Salah satu durasi terpanjang mencapai sekitar 80 hari dan terjadi di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Ribuan Titik Panas Mulai Bermunculan
Memasuki puncak kemarau, risiko kebakaran hutan dan lahan diperkirakan meningkat signifikan.
Hingga akhir Juli 2026, BMKG mendeteksi lebih dari 5.000 titik panas yang tersebar di sejumlah wilayah, terutama:
- Kalimantan Barat,
- Riau,
- Papua Selatan,
- serta beberapa kawasan lain yang rawan karhutla.
BMKG mengingatkan bahwa Sumatra dan Kalimantan menjadi wilayah dengan tingkat kewaspadaan tertinggi selama Agustus hingga September.
Selain memantau titik panas, BMKG juga terus mengawasi penyebaran asap kebakaran yang mulai terdeteksi di beberapa daerah.
El Niño Diprediksi Bertahan Hingga Awal 2027
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan indeks Niño 3.4 telah menunjukkan nilai yang mengindikasikan El Niño berada pada kategori kuat.
Meski fenomena tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027, dampak terbesarnya bagi Indonesia diperkirakan terjadi selama musim kemarau berlangsung.
BMKG juga terus memantau perkembangan suhu permukaan laut di Samudra Hindia yang berpotensi memicu terbentuknya IOD Positif pada paruh kedua tahun ini.
OMC Dilaksanakan di Berbagai Daerah
Sepanjang 2026, BMKG telah melaksanakan berbagai operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah prioritas.
Operasi tersebut dilakukan untuk:
- menekan risiko kebakaran hutan,
- meningkatkan peluang hujan,
- serta menjaga ketersediaan air.
Beberapa wilayah yang telah maupun sedang menjalankan OMC meliputi:
- Aceh,
- Sumatra Selatan,
- Kalimantan Tengah,
- Riau,
- serta sejumlah daerah lain yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Selain itu, BMKG juga menyiapkan operasi penyemaian awan di kawasan strategis seperti Daerah Tangkapan Air Danau Toba, DAS Citarum, DAS Brantas, dan DAS Mamasa guna menjaga ketersediaan sumber daya air.
Dampak Kemarau Menjangkau Banyak Sektor
BMKG menilai musim kemarau tahun ini tidak hanya berdampak terhadap sektor kehutanan, tetapi juga memengaruhi berbagai bidang lain.
Pada sektor pertanian, petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering.
Sementara itu, pengelola sumber daya air diminta mengantisipasi kebutuhan air baku serta menjaga kapasitas bendungan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan pembangkit listrik.
Di sektor kesehatan, masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap penurunan kualitas udara akibat asap kebakaran hutan yang dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan (ISPA). Selain itu, cuaca panas ekstrem juga berpotensi meningkatkan risiko heat stroke serta memengaruhi penyebaran penyakit seperti demam berdarah dan malaria.
Masyarakat Diminta Terus Memantau Informasi Resmi
BMKG memastikan akan terus memperbarui informasi prakiraan iklim dan cuaca sebagai dasar pengambilan langkah mitigasi di berbagai sektor.
Masyarakat diimbau untuk mengikuti informasi resmi BMKG secara berkala serta meningkatkan kewaspadaan selama puncak musim kemarau berlangsung, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah rawan kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan.


