Horas!
Keluarga besar Parna (Pomparan Raja Nai Ambaton) dikenal memiliki silsilah yang sangat luas dan rimbun. Berdasarkan penelusuran sejarah, jumlah marga yang berada di bawah payung besar keturunan Parna bahkan disebut bisa mencapai 83 marga. Mereka tersebar dari pesisir Samosir, dataran tinggi Karo, hingga wilayah Pakpak dan Gayo.
Meski nama dan dialeknya beragam akibat perantauan selama ratusan tahun, identitas mereka tetap satu: Sisada anak, sisada boru.
Dilansir dari p2k.stekom.ac.id, Pomparan Raja Nai Ambaton atau Parna merupakan kelompok marga yang berasal dari satu garis keturunan, yakni Tuan Sorba Di Julu. Berdasarkan hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Parna se-Indonesia yang digelar Forum Parna se-Indonesia, setidaknya terdapat 58 marga yang tercatat secara resmi.
Daftar 58 Marga Parna
Berikut daftar lengkapnya:
- Bancin
- Banurea
- Boangmenalu
- Brampu
- Brasa
- Bringin
- Dalimunthe
- Gajah
- Garingging
- Ginting Baho
- Ginting Beras
- Ginting Capa
- Ginting Guruputih
- Ginting Jadibata
- Ginting Jawak
- Ginting Manik
- Ginting Munthe
- Ginting Pase
- Ginting Sinisuka
- Ginting Sugihen
- Ginting Tumangger
- Haro
- Kombih
- Maharaja
- Manik Kecupak
- Munte
- Nadeak
- Nahampun
- Napitu
- Pasi
- Pinayungan
- Rumahorbo
- Saing
- Saraan
- Saragih Dajawak
- Saragih Damunte
- Saragih Dasalak
- Saragih Sumbayak
- Siadari
- Siallagan
- Siambaton
- Sidabalok
- Sidabungke
- Sidabutar
- Sidauruk
- Sigalingging
- Sijabat
- Simalango
- Simanihuruk
- Simarmata
- Simbolon
- Sitanggang
- Sitio
- Tamba
- Tinambunan
- Tumanggor
- Turnip
- Turuten
Meski Rakernas mencatat 58 garis keturunan resmi, penelitian sejarah menunjukkan angka tersebut dapat berkembang hingga 83 marga. Namun, satu hal yang tidak berubah adalah semangat Sisada anak, sisada boru, yang menegaskan bahwa seluruh keturunan Parna berasal dari satu rumpun keluarga besar.
Wilayah awal “kekuasaan” Parna berada di bagian barat hingga utara Pulau Samosir. Jika berkunjung ke sana, khususnya ke kawasan Simanindo, jejak budaya Parna masih sangat terasa. Di daerah ini, pertunjukan boneka kayu legendaris Sigale-gale tetap dilestarikan oleh masyarakat setempat.
Identitas Parna bukan sekadar daftar marga, melainkan simbol persaudaraan lintas wilayah dan generasi yang terus hidup hingga kini.


