Horas!
Dongan BK, jauh sebelum masyarakat mengenal kalender Masehi, orang Batak Toba telah memiliki sistem penanggalan tradisional bernama Porhalaan. Sistem ini bukan sekadar alat menghitung hari, melainkan pedoman penting dalam mengatur kehidupan adat, pertanian, ritual kepercayaan, hingga pengambilan keputusan sehari-hari.
Pengetahuan tentang Porhalaan umumnya dicatat dalam pustaha laklak, naskah tradisional Batak yang ditulis di atas kulit kayu. Di dalam pustaha tersebut termuat perhitungan hari baik dan buruk, penentuan waktu pelaksanaan ritual, serta tanda-tanda kosmologis yang diyakini memengaruhi kehidupan manusia.
Filolog asal Jerman, P. Voorhoeve, dalam kajiannya mengenai naskah Batak menyebut bahwa Porhalaan merupakan inti dari sistem pengetahuan tradisional Batak.
“Kalender Batak tidak berdiri sendiri, melainkan menyatu erat dengan sistem kepercayaan dan praktik ritual masyarakatnya,” tulis Voorhoeve dalam penelitiannya tentang pustaha Batak.
Sistem Waktu Berbasis Kosmologi Lokal
Porhalaan memiliki cara pembagian waktu yang berbeda dengan kalender modern. Perhitungan hari didasarkan pada siklus tertentu yang memadukan tanda kosmis, simbol-simbol, serta pengetahuan turun-temurun. Sistem ini dikuasai oleh datu atau parbaringin, tokoh adat yang memiliki otoritas spiritual dan pengetahuan mendalam tentang pustaha.
Dalam buku Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, filolog Uli Kozok menegaskan bahwa Porhalaan bukan hanya kalender, tetapi sebuah sistem pengetahuan komprehensif.
“Porhalaan berfungsi sebagai penentu waktu sekaligus panduan ritual yang menetapkan kapan suatu tindakan dianggap tepat atau justru berbahaya,” tulis Kozok.
Kalender adat ini digunakan untuk menentukan waktu membuka ladang, menyelenggarakan pesta adat, melakukan perjalanan jauh, hingga pelaksanaan ritual pengobatan tradisional.
Penjaga dan Penafsir Pengetahuan
Tidak semua orang Batak dapat membaca atau menggunakan Porhalaan. Pengetahuan ini secara khusus diwariskan kepada datu atau parbaringin yang mempelajari pustaha secara mendalam. Mereka berperan sebagai penafsir waktu dan peristiwa dalam kehidupan masyarakat.
Antropolog J.C. Vergouwen mencatat bahwa keputusan yang diambil berdasarkan perhitungan Porhalaan memiliki legitimasi adat yang sangat kuat.
“Penentuan hari baik dan buruk melalui kalender adat dipercaya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan dunia leluhur,” tulis Vergouwen dalam studinya tentang masyarakat Batak Toba.
Jejak yang Bertahan di Tengah Perubahan
Seiring masuknya agama-agama besar dan digunakannya kalender modern, praktik Porhalaan perlahan mengalami penyusutan. Meski demikian, jejaknya tidak sepenuhnya hilang. Hingga kini, sebagian masyarakat Batak masih merujuk pada perhitungan adat tersebut, terutama dalam pelaksanaan upacara tradisional tertentu.
Bagi kalangan akademisi dan peneliti budaya, Porhalaan menjadi bukti bahwa masyarakat Batak telah memiliki sistem pengelolaan waktu yang kompleks jauh sebelum datangnya pengaruh luar. Kalender ini mencerminkan cara pandang lokal terhadap alam semesta, kehidupan sosial, dan relasi spiritual.
Porhalaan bukan hanya catatan hari, melainkan warisan pengetahuan dan kebijaksanaan leluhur Batak Toba yang diwariskan lintas generasi.


