Horas!
Dongan BK, klean mungkin merasa sering kali orang Batak dicap keras dan terlalu terus terang. Padahal, di balik intonasi yang lantang, tersimpan budaya komunikasi yang kaya makna, sarat etika, dan menjunjung tinggi rasa hormat.
Bagi masyarakat Batak, tradisi lisan bukan sekadar percakapan, melainkan sebuah strategi sosial untuk menjalin relasi, berdiplomasi, hingga menjaga keharmonisan hidup bersama.
Di era digital yang serba instan, komunikasi kita kerap kehilangan kedalaman. Menariknya, kearifan komunikasi dari tanah Batak justru relevan sebagai pedoman berinteraksi di masa kini. Berikut lima tradisi komunikasi Batak yang layak diteladani agar cara kita berkomunikasi menjadi lebih bermakna.
1. Martarombo: Menemukan Ikatan Sebelum Melangkah Lebih Jauh
Berkenalan dengan orang baru sering kali terasa kaku dan sebatas basa-basi. Dalam budaya Batak, ada tradisi Martarombo, yaitu proses saling mengenal melalui penelusuran silsilah keluarga atau tarombo. Pertanyaan seperti “Margamu apa?” bukan sekadar formalitas, melainkan pintu masuk untuk menemukan hubungan kekerabatan.
Tujuan utamanya adalah membangun rasa kebersamaan dan solidaritas. Ketika ikatan itu ditemukan, suasana pun langsung terasa akrab dan hangat. Tradisi ini sangat membantu, terutama bagi para perantau Batak yang membutuhkan jaringan sosial dan rasa aman di lingkungan baru.
Di tengah budaya networking modern yang sering terasa transaksional, Martarombo mengajarkan satu hal penting: kenali hubungan dan kesamaan terlebih dahulu sebelum membicarakan kepentingan. Relasi yang tumbuh dari ketulusan akan jauh lebih kokoh.
2. Dalihan Na Tolu: Menempatkan Diri Agar Komunikasi Harmonis
Dalihan Na Tolu kerap disebut sebagai “kompas sosial” orang Batak Toba. Filosofi tungku berkaki tiga ini menjadi dasar dalam menentukan cara berinteraksi, dengan membagi peran sosial ke dalam tiga kelompok utama:
- Hula-hula (keluarga pihak istri), diposisikan sebagai sumber berkat dan harus dihormati (somba).
- Dongan tubu (sesama marga), diperlakukan setara dengan sikap saling menjaga (manat).
- Boru (keluarga yang menerima perempuan dari marga kita), diperlakukan dengan penuh kasih dan kelembutan (elek).
Sistem ini berfungsi sebagai pengatur sosial agar komunikasi tetap seimbang dan tidak melukai satu sama lain. Bahkan hingga kini, nilai Dalihan Na Tolu masih relevan dalam menyelesaikan konflik keluarga.
Dalam kehidupan modern—terutama di ruang digital—banyak orang lupa menyesuaikan cara bicara dengan konteks. Dalihan Na Tolu mengingatkan bahwa berbicara dengan atasan, rekan sebaya, atau junior tentu membutuhkan pendekatan yang berbeda. Kemampuan menyesuaikan komunikasi adalah cermin kedewasaan dan kecerdasan emosional.
3. Umpasa: Menasihati dengan Indah dan Berkelas
Memberi nasihat sering kali berujung disalahartikan sebagai menggurui. Orang Batak punya solusi elegan lewat Umpasa, yaitu puisi lisan yang sarat doa, petuah, dan kebijaksanaan.
Umpasa menjadi elemen penting dalam berbagai upacara adat karena mampu menyampaikan pesan secara halus namun mendalam. Salah satu contohnya berbunyi:
“Jolo nidilat bibir asa nidok hata, asa unang haccit rohani donganmu.”
Artinya, berpikirlah sebelum berbicara agar tidak melukai perasaan orang lain.
Alih-alih kritik tajam, Umpasa mengajarkan seni menyampaikan pesan melalui perumpamaan dan keindahan bahasa. Pesan yang disampaikan dengan cara lembut dan positif cenderung lebih diterima dan dihargai.
4. Mandok Hata: Memberi Ruang bagi Setiap Pendapat
Dalam sebuah musyawarah, tidak jarang hanya segelintir orang yang mendominasi pembicaraan. Tradisi Mandok Hata hadir untuk mencegah hal tersebut. Secara harfiah berarti “menyampaikan kata”, praktik ini memberi kesempatan kepada setiap perwakilan kelompok kekerabatan untuk berbicara secara bergiliran.
Tradisi ini mencerminkan demokrasi lokal, di mana setiap suara dianggap penting dan layak didengar. Pendapat yang muncul menjadi bahan pertimbangan bersama dalam mencapai mufakat, sekaligus mempererat hubungan sosial.
Nilai Mandok Hata relevan diterapkan dalam diskusi modern—baik di keluarga, organisasi, maupun tempat kerja. Ketika semua orang merasa aman untuk berbicara, keputusan yang dihasilkan pun akan lebih kaya dan bijaksana.
5. Marhata Sinamot: Negosiasi yang Mengutamakan Martabat
Dalam pernikahan adat Batak, proses penentuan sinamot (mahar) dikenal dengan istilah Marhata Sinamot. Namun, ini bukan sekadar tawar-menawar nilai materi, melainkan seni diplomasi antar keluarga.
Prosesnya dipandu oleh juru bicara adat (Raja Parhata) dengan bahasa kiasan yang halus dan penuh etika. Tujuan utamanya bukan memenangkan negosiasi, melainkan membangun hubungan kekeluargaan yang kuat, adil, dan saling menghormati.
Marhata Sinamot mengajarkan bahwa negosiasi idealnya tidak berakhir dengan pihak yang kalah. Ketika proses dijalani dengan terbuka dan beradab, hasil yang dicapai pun akan menjadi kesepakatan bersama yang langgeng.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan sering kali dangkal, nilai-nilai komunikasi Batak hadir sebagai pengingat pentingnya memperlambat langkah, mendengar dengan empati, dan menjaga hubungan antarmanusia.


