Horas!
Dongan BK, selama ini kemenyan sering dilekatkan dengan hal-hal berbau mistis. Padahal, anggapan tersebut jauh dari kenyataan. Getah harum yang berasal dari pedalaman Sumatra Utara ini justru menjadi salah satu bahan berharga di balik kemewahan parfum global seperti Louis Vuitton hingga Gucci.
Bagi masyarakat Batak, kemenyan atau haminjon bukan benda ritual semata, melainkan komoditas bernilai tinggi yang telah diperdagangkan sejak ribuan tahun lalu. Bahkan, dalam sejarah dunia, kemenyan pernah digunakan untuk pengawetan mumi para firaun Mesir.
Mari menelusuri jejak haminjon, dari rimbunnya hutan Tapanuli hingga meja peracik parfum mewah dunia, lewat empat fakta unik berikut ini.

Kemenyan Tumbuh Bersama Hutan, Bukan Perkebunan Tunggal
Berbeda dengan komoditas pertanian lain, kemenyan tidak bisa hidup di sistem monokultur. Pohon kemenyan (Styrax sp.) justru membutuhkan naungan dari pepohonan hutan lain untuk menghasilkan getah berkualitas tinggi. Jika hutan di sekitarnya rusak, produktivitas getahnya ikut menurun drastis.
Karena itu, lahan kemenyan—yang dikenal sebagai tombak haminjon—lebih menyerupai hutan alami dengan keanekaragaman hayati yang terjaga. Tanpa disadari, para petani kemenyan (parhaminjon) berperan sebagai penjaga ekosistem. Demi mempertahankan hasil panen, mereka harus merawat dan melindungi hutan di sekelilingnya.
Dianggap Kerabat Leluhur, Panennya Sarat Etika
Dalam budaya Batak, kemenyan bukan sekadar pohon penghasil getah. Ia dipandang sakral. Terdapat legenda yang menyebutkan bahwa pohon kemenyan merupakan jelmaan Boru Raja, seorang putri yang melarikan diri ke hutan untuk menghindari pernikahan paksa dan berdoa agar berubah menjadi pohon yang dapat membantu keluarganya.
Keyakinan ini melahirkan etika khusus dalam proses panen yang disebut marhottas. Sebelum menyadap getah, petani melakukan doa dan persembahan sederhana. Filosofinya jelas: alam harus diperlakukan dengan niat yang bersih. Bahkan, tutur kata yang kasar diyakini bisa “menutup” rezeki, membuat getah enggan keluar dari batang pohon.
Memiliki Karakter Kimia Unik, Kunci Aroma Parfum yang Tahan Lama
Keistimewaan Kemenyan Tapanuli tidak hanya bersifat budaya, tetapi juga ilmiah. Getah ini memiliki profil kimia khas yang didominasi senyawa asam sinamat. Senyawa tersebut menciptakan aroma balsamik yang hangat, kompleks, dan sedikit pedas—karakter yang sangat disukai industri parfum kelas atas.
Berbeda dengan benzoin dari Siam yang cenderung manis menyerupai vanila, kemenyan Tapanuli memiliki identitas aroma yang lebih dalam. Selain sebagai sumber wangi, ia berfungsi sebagai fixative, yakni bahan yang membuat aroma parfum bertahan lebih lama di kulit. Inilah alasan mengapa haminjon sangat bernilai di pasar global.
Pernah Bernilai Setara Emas, Kini Petaninya Terpinggirkan

Ironisnya, di balik tingginya harga kemenyan di pasar internasional—yang bisa mencapai jutaan rupiah per kilogram—nasib petaninya justru kerap memprihatinkan. Pada era 1960-an, kemenyan disebut-sebut memiliki nilai setara emas. Kini, di tingkat petani, harganya sering kali hanya berkisar ratusan ribu rupiah.
Panjang dan timpangnya rantai distribusi, serta dominasi tengkulak, menjadi penyebab utama. Akibatnya, banyak generasi muda Batak memilih merantau daripada melanjutkan tradisi sebagai petani kemenyan. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa mengancam keberlanjutan budaya sekaligus kelestarian hutan.
Meski demikian, harapan mulai tumbuh. Upaya hilirisasi kemenyan, pengolahan di tingkat lokal, serta rencana pendaftaran Kemenyan Tapanuli Utara sebagai produk Indikasi Geografis (IG) menjadi langkah penting untuk meningkatkan nilai tambah dan posisi tawar petani.


