Horas!
Di tengah hiruk pikuk Jakarta Selatan, berdiri sebuah klinik sederhana di kawasan Jalan Raya Kebayoran Lama. Klinik Pratama Bhakti Sosial Kesehatan St. Tarsisius ini telah menjadi tumpuan harapan warga berpenghasilan rendah sejak berdiri pada 2004. Di tempat inilah Dokter Mangku Sitepoe, sosok sepuh kelahiran tahun 1936 asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menyalurkan pengabdian hidupnya di bidang kesehatan.
Dua kali sepekan, setiap Rabu dan Sabtu, Dokter Mangku masih setia melayani pasien. Biaya yang dikenakan pun nyaris simbolis: Rp 10.000, sudah termasuk pemeriksaan dan obat-obatan. Nominal tersebut bukan sekadar tarif, melainkan wujud komitmen agar layanan kesehatan tetap bisa diakses oleh siapa pun.
Berawal dari Klinik Gratis di Kramat Pela
Jauh sebelum Klinik St. Tarsisius berdiri, Dokter Mangku telah lebih dulu terlibat dalam pelayanan kesehatan sosial. Pada 1995, ia bersama empat rekannya mendirikan Klinik Pratama Bhakti Sosial Kesehatan St. Yohanes Penginjil di kawasan Kramat Pela, Kebayoran Baru.
Seiring waktu, jumlah pasien yang datang terus meningkat drastis. Dalam satu hari praktik, lebih dari 200 pasien harus dilayani oleh lima dokter. Kondisi itulah yang mendorong pendirian klinik tambahan, termasuk klinik tempat Dokter Mangku mengabdi hingga hari ini.
Altruisme sebagai Landasan Pengabdian
Bagi Dokter Mangku, pelayanan kesehatan bukan sekadar profesi, melainkan panggilan nurani. Ia meyakini prinsip altruisme, sebuah gagasan bahwa manusia yang berakal sehat memiliki dorongan alami untuk berbuat bagi sesama tanpa pamrih.
Menurutnya, altruisme harus berjalan beriringan dengan keberlanjutan agar pelayanan sosial dapat terus hidup. Prinsip inilah yang menjadi fondasi berdirinya balai pengobatan yang ia rintis bersama rekan-rekannya.
Hidup Sederhana, Didukung Keluarga dan Sahabat
Di luar aktivitasnya sebagai dokter, kebutuhan hidup sehari-hari Dokter Mangku dipenuhi dari uang pensiun serta honor dari buku-buku yang pernah ia tulis. Dari pihak klinik, ia hanya menerima uang transportasi sebesar Rp 100.000 setiap kali datang praktik. Dukungan juga datang dari keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Ia mengaku bersyukur karena seluruh anak-anaknya mendukung jalan hidup yang ia pilih, meski pengabdian tersebut tidak menjanjikan keuntungan materi.
Jejak Pendidikan dan Dedikasi Panjang
Menariknya, perjalanan akademik Dokter Mangku dimulai dari dunia kedokteran hewan di Universitas Gadjah Mada. Setelah itu, ia melanjutkan studi kedokteran umum di Universitas Sumatera Utara. Sejak 1995, dedikasinya untuk melayani masyarakat kecil tak pernah surut.
Lebih dari dua dekade berlalu, semangat itu tetap menyala. Di usia senja, Dokter Mangku Sitepoe membuktikan bahwa makna pengabdian sejati terletak pada keberanian untuk tetap melayani, meski dengan imbalan yang sangat sederhana.


