Horas!
Kepala Staf Umum TNI, Letnan Jenderal Richard Tampubolon, mengisahkan perjuangan prajurit di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, yang terpaksa bekerja dua kali membangun jembatan karena tersapu banjir susulan. Peristiwa itu terjadi pada Senin (16/2/2026).
“Hujan dengan intensitas tinggi pada Senin kemarin menyebabkan jembatan-jembatan yang dalam proses pembangunan kembali dibawa oleh banjir,” ujar Richard saat rapat evaluasi pemulihan bencana di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (18/2/2026).
Richard kemudian bertolak ke Tapanuli Tengah pada Selasa, 17 Februari. Berdasarkan diskusi dengan tim Kementerian Pekerjaan Umum, ia menyebut pembangunan jembatan harus sejalan dengan perbaikan di area hulu. Jika hujan terus terjadi dengan intensitas tinggi selama berhari-hari, proses pembangunan akan terus terganggu.
Oleh sebab itu, Richard meminta keputusan dari Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, agar perbaikan di hulu dan pembangunan jembatan dapat berjalan paralel.
Di sisi lain, ia mengapresiasi Kementerian Pekerjaan Umum yang membantu membersihkan jalan dari material longsor susulan sehingga akses mobilitas prajurit TNI tetap terbuka.
1. Sekolah dan Rumah Warga Kembali Tertutup Lumpur
Richard menyampaikan bahwa sekolah dan rumah warga yang sebelumnya sudah dibersihkan kembali dipenuhi lumpur akibat banjir susulan. Prajurit TNI pun harus kembali turun tangan bersama relawan dan kepolisian untuk membersihkan area terdampak.
“Karena kena banjir lagi, terpaksa kena lumpur lagi dan dikerjakan secara bersama-sama oleh prajurit TNI, relawan, hingga anggota kepolisian. Sehingga aktivitas pendidikan dan lalu lintas logistik dapat berjalan,” katanya.
2. Sedimentasi Lumpur 2,5 Meter Tutup Area Sawah
Dalam forum tersebut, Richard juga menyampaikan informasi kepada Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, bahwa banjir susulan menghantam area persawahan warga. Sedimentasi lumpur bahkan mencapai ketebalan 2,5 meter dan bercampur batu.
“Di dalam sedimen lumpur itu juga terdapat batu. Kalau langsung ditanam kembali tidak akan maksimal,” ujarnya.
Ia mengusulkan agar tidak dilakukan optimalisasi langsung di lahan sawah terdampak karena keterbatasan anggaran. Menurutnya, program cetak sawah baru bisa menjadi solusi, yakni dengan mengangkat lumpur dan batu terlebih dahulu sebelum masuk ke tahap penanaman.
3. TNI Kerahkan 80 Alutsista Selama Penanggulangan Banjir
Berdasarkan laporan Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, selama penanggulangan bencana di Sumatra, TNI telah mengerahkan 80 alat utama sistem persenjataan (alutsista), termasuk pesawat, helikopter, dan kapal.
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal akibat banjir di Sumatra mencapai 1.206 jiwa. Angka tersebut masih berpotensi bertambah karena 141 warga lainnya dilaporkan hilang.
Upaya pemulihan pun masih terus dilakukan di berbagai wilayah terdampak, termasuk perbaikan infrastruktur vital dan pemulihan lahan pertanian warga.


