11 Jenis Kematian dalam Adat Batak Toba dan Makna di Baliknya.
11 Jenis Kematian dalam Adat Batak Toba dan Makna di Baliknya.
Beranda Budaya 11 Jenis Kematian dalam Adat Batak Toba dan Makna di Baliknya
Budaya

11 Jenis Kematian dalam Adat Batak Toba dan Makna di Baliknya

Bagikan

Horas!

Dalam kehidupan masyarakat Batak Toba, kematian tidak hanya dipandang sebagai akhir dari perjalanan hidup seseorang. Status dan perjalanan kehidupan seseorang selama di dunia juga memiliki kaitan erat dengan bagaimana kematiannya ditempatkan dalam adat.

Mulai dari seseorang yang meninggal sebelum lahir, saat masih bayi, hingga mereka yang telah menikah dan memiliki anak, cucu, bahkan cicit, setiap kondisi memiliki penyebutan dan perlakuan adat yang berbeda.

Pengelompokan tersebut umumnya berkaitan dengan perjalanan seseorang dalam membangun keluarga dan meneruskan keturunan. Semakin lengkap tahapan kehidupan yang telah dilalui, semakin tinggi pula penghormatan adat yang diberikan ketika seseorang meninggal dunia.

Mengacu pada penelitian Rosmegawaty Tindaon dan sejumlah peneliti lainnya dalam jurnal Mangandung dalam Perkabungan Masyarakat Batak Toba, berikut 11 jenis kematian yang dikenal dalam adat Batak Toba.

1. Mate di Bortian

Mate di Bortian merupakan istilah untuk kematian yang terjadi ketika bayi masih berada di dalam kandungan.

Karena belum sempat menjalani kehidupan di dunia, prosesi pemakaman biasanya dilakukan secara sederhana. Dalam kondisi ini, jenazah tidak menggunakan peti dan tidak disertai pelaksanaan upacara adat seperti pada kematian orang yang telah menjalani kehidupan.

2. Mate Poso-poso

Mate Poso-poso adalah kematian yang terjadi ketika seseorang masih berusia bayi.

Meskipun belum memasuki usia dewasa, bayi yang meninggal tetap mendapatkan penghormatan dari keluarga. Salah satunya melalui penggunaan ulos yang diberikan atau diselimutkan oleh orang tua.

Ulos tersebut menjadi simbol kasih sayang sekaligus ungkapan kesedihan keluarga atas kepergian sang anak.

3. Mate Dakdanak

Selanjutnya terdapat Mate Dakdanak, yakni kematian yang terjadi ketika seseorang masih berada pada usia anak-anak.

Dalam pelaksanaan adatnya, jenazah biasanya ditutupi dengan ulos yang diberikan oleh tulang, yaitu paman dari pihak ibu.

Pemberian ulos tersebut menggambarkan kasih sayang dan perhatian keluarga besar terhadap anak yang meninggal, sekaligus menunjukkan pentingnya hubungan kekerabatan dari garis ibu dalam masyarakat Batak Toba.

4. Mate Bulung

Mate Bulung merupakan istilah bagi seseorang yang meninggal ketika memasuki usia remaja.

Pada tahap ini, seseorang dianggap belum sepenuhnya menjalani kehidupan sosial sebagai orang dewasa dan belum memiliki keluarga sendiri.

Karena itu, pelaksanaan adat kematiannya masih relatif sederhana dan belum mendapatkan bentuk penghormatan seperti yang diberikan kepada orang yang telah menikah dan memiliki keturunan.

5. Mate Ponggol

Mate Ponggol merujuk pada kematian seseorang yang sudah dewasa tetapi belum menikah.

Dalam pandangan adat Batak Toba, kondisi tersebut sering dimaknai sebagai kehidupan yang terputus karena orang tersebut belum sempat membangun rumah tangga maupun meneruskan keturunan.

Status tersebut kemudian memengaruhi bentuk pelaksanaan adat ketika yang bersangkutan meninggal dunia.

6. Mate Punu

Berbeda dengan Mate Ponggol, Mate Punu merupakan kematian seseorang yang sudah menikah tetapi belum memiliki anak.

Dalam adat Batak Toba, keturunan memiliki posisi penting dalam keberlanjutan keluarga dan marga. Karena itu, kematian seseorang tanpa memiliki anak memiliki makna tersendiri dalam pengelompokan adat.

7. Mate Mangkar

Mate Mangkar terjadi ketika seseorang telah menikah dan memiliki anak, tetapi anak-anaknya masih berusia kecil.

Dalam kondisi tersebut, tanggung jawab orang tua dianggap masih belum selesai karena anak-anak masih membutuhkan pendampingan dan belum mandiri.

Prosesi adat tetap dilakukan sebagai bentuk penghormatan, tetapi dalam kondisi tertentu tidak disertai musik. Hal ini menjadi bagian dari ekspresi duka keluarga atas kepergian orang yang masih memiliki tanggung jawab besar terhadap keluarganya.

8. Mate Hatungganeon

Mate Hatungganeon merupakan kematian seseorang ketika seluruh anaknya sudah menikah, tetapi belum memiliki cucu.

Pada tahap ini, kehidupan keluarga sudah berkembang karena anak-anak telah membangun rumah tangga. Namun, orang tersebut belum sempat melihat hadirnya generasi berikutnya.

Karena itu, posisi kematian ini masih berada pada tahapan sebelum seseorang dianggap mencapai kondisi kehidupan keluarga yang sepenuhnya lengkap.

9. Mate Sarimatua

Berikutnya adalah Mate Sarimatua, yaitu ketika seseorang meninggal dunia setelah memiliki cucu, tetapi masih terdapat anak yang belum menikah.

Artinya, sebagian tahapan kehidupan keluarga telah terpenuhi. Orang tersebut sudah memiliki cucu, tetapi perjalanan keluarganya masih dianggap belum sepenuhnya lengkap karena masih ada anak yang belum membangun rumah tangga.

Pada tingkatan ini, pelaksanaan adat sudah dapat melibatkan musik sebagai bagian dari penghormatan kepada orang yang meninggal.

10. Mate Saur Matua

Mate Saur Matua merupakan salah satu tingkatan kematian yang memiliki kedudukan tinggi dalam adat Batak Toba.

Istilah ini merujuk pada seseorang yang meninggal dunia setelah seluruh anaknya menikah dan telah memiliki keturunan.

Kondisi tersebut dianggap menunjukkan bahwa orang tersebut telah menyelesaikan salah satu tanggung jawab penting dalam kehidupan, yakni membangun keluarga dan meneruskan garis keturunan.

Karena itu, kematian Saur Matua mendapatkan penghormatan adat yang lebih besar dibandingkan beberapa tingkatan sebelumnya.

11. Mate Saur Matua Mauli Bulung

Tingkatan tertinggi dalam pengelompokan tersebut adalah Mate Saur Matua Mauli Bulung.

Istilah ini digunakan untuk seseorang yang meninggal dunia setelah memiliki anak, cucu, bahkan hingga cicit.

Kondisi tersebut dipandang sebagai bentuk kehidupan yang sangat lengkap karena seseorang telah menyaksikan beberapa generasi keturunannya tumbuh dan berkembang.

Oleh sebab itu, prosesi adat untuk Mate Saur Matua Mauli Bulung biasanya mendapatkan penghormatan yang besar. Acara dapat berlangsung lebih meriah, melibatkan keluarga besar, disertai musik, dan dalam kondisi tertentu dilaksanakan selama beberapa hari.

Setiap Tahapan Menggambarkan Perjalanan Kehidupan

Ke-11 istilah tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Batak Toba memiliki cara tersendiri dalam memaknai perjalanan kehidupan seseorang.

Status pernikahan, keberadaan anak, cucu, hingga cicit menjadi bagian penting yang menentukan posisi seseorang dalam struktur adat ketika meninggal dunia.

Dengan demikian, pembagian jenis kematian tersebut bukan sekadar istilah untuk membedakan usia atau kondisi seseorang saat meninggal. Di dalamnya terdapat pandangan mengenai keluarga, keturunan, tanggung jawab, serta hubungan kekerabatan yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Batak Toba.

Bagikan
ads image
ads image
ads image
Artikel Terkait
Ilustrasi seorang penenun ulos.
Budaya

Mengenal Proses Pembuatan dan 5 Jenis Ulos Batak Toba

Horas! Ulos merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki peran penting dalam...

Persamaan Suku Batak dan Toraja: Apa Saja Kesamaannya dan Mengapa?
Budaya

Persamaan Suku Batak dan Toraja: Apa Saja Kesamaannya dan Mengapa?

Horas! Sekilas, masyarakat Batak di Sumatera Utara dan masyarakat Toraja di Sulawesi...

Ilustrasi upacara adat Batak.
Budaya

Mengenal Tarombo, Silsilah Keluarga yang Menjadi Identitas Penting Masyarakat Batak

Horas! Bagi masyarakat Batak, pertemuan dengan sesama orang Batak sering kali diawali...

99 Kosakata Bahasa Batak dalam Kehidupan Sehari-hari Beserta Artinya.
Budaya

99 Kosakata Bahasa Batak dalam Kehidupan Sehari-hari Beserta Artinya

Horas! Memahami budaya Batak tidak hanya soal adat dan tradisi, tetapi juga...