Rumah adat Batak yang dikenal sebagai Rumah Bolon identik dengan bentuk rumah panggung dan atap melengkung. Bangunan tradisional ini banyak ditemukan di Sumatera Utara, terutama dalam lingkungan masyarakat Batak Toba.
Namun, rumah dengan arsitektur khas Batak ternyata juga dapat ditemukan jauh dari Tanah Batak. Di Jerman, tepatnya di Desa Werpeloh, berdiri sebuah replika Rumah Bolon yang dikenal dengan nama Batakhaus.
Bangunan tersebut telah berdiri sejak 1978. Menariknya, pembangunan Batakhaus justru diprakarsai oleh seorang pastor asal Jerman. Lantas, bagaimana ceritanya rumah adat Batak bisa berdiri di negeri tersebut?
Batakhaus dan Pastor Matthäus Bergmann
Gagasan pembangunan Batakhaus bermula dari seorang pastor bernama Pater Matthäus Bergmann. Berdasarkan informasi dari situs resmi Batakhaus, Bergmann mengabdikan dirinya sebagai pastor di Paroki St. Fransiskus selama 1973-2003.
Kondisi kesehatan membuatnya tidak dapat menjalankan tugas sebagai misionaris secara langsung di Indonesia. Meski demikian, hal tersebut tidak menghalanginya untuk membangun hubungan dengan budaya Batak.
Hubungan antara Kantor Prokur Misi Kapusin di Münster, Bergmann, serta saudaranya, Pastor Johannes, yang bertugas di Sumatera turut membuka jalur komunikasi dan pertukaran budaya dengan masyarakat di Tanah Batak.
Dari hubungan tersebut kemudian muncul gagasan untuk menghadirkan sebuah rumah adat Batak di Jerman.
Warga Werpeloh Gotong Royong Membangun Batakhaus
Pembangunan Batakhaus melibatkan masyarakat Desa Werpeloh. Warga dari berbagai latar belakang ikut bergotong royong mendirikan replika rumah adat Batak Toba tersebut.
Para tukang, petani, hingga kalangan pemuda desa turut ambil bagian dalam proses pembangunannya.
Batakhaus akhirnya diresmikan pada 1978 melalui sebuah perayaan yang melibatkan warga paroki. Acara tersebut juga dihadiri sejumlah tamu kehormatan dari wilayah Emsland serta Keuskupan Sibolga di Sumatera Utara.
Kehadiran Batakhaus sejak saat itu menjadi salah satu bentuk hubungan budaya antara masyarakat Jerman dengan Tanah Batak.
Arsitektur Batakhaus Gambarkan Filosofi Tiga Dunia
Batakhaus Werpeloh dirancang dengan konsep “Rumah Satu Ruang” yang merepresentasikan pandangan kosmologis tradisional masyarakat Batak.
Bangunan tersebut terbagi dalam tiga bagian yang menggambarkan tiga dunia, yakni Dunia Bawah, Dunia Tengah atau Bumi, dan Dunia Atas.
Bagian paling bawah berupa konstruksi dengan tiang-tiang tinggi. Area tersebut secara tradisional dapat digunakan sebagai tempat hewan ternak sekaligus menjadi bagian dari struktur rumah.
Bagian tengah merupakan ruang tempat manusia tinggal dan beraktivitas. Area ini menggambarkan kehidupan manusia serta hubungan sosial di dunia nyata.
Sementara itu, bagian atas atau atap dikaitkan dengan Dunia Atas. Dalam konsep tradisionalnya, bagian tersebut berkaitan dengan penyimpanan benda pusaka dan dunia para leluhur.
Pembagian ruang tersebut menggambarkan pandangan masyarakat Batak mengenai hubungan antara manusia, alam, dan dunia spiritual.
Atap Melengkung Jadi Ciri Khas
Salah satu bagian yang paling mudah dikenali dari Batakhaus adalah bentuk atap pelananya yang melengkung. Karakter tersebut menjadi salah satu ciri khas arsitektur rumah tradisional Batak.
Bagian gable atau bidang segitiga di bawah atap juga dihiasi ornamen khas. Warna hitam, putih atau kuning muda, serta merah digunakan dalam ornamen tersebut dan masing-masing memiliki makna tertentu dalam tradisi Batak.
Meski tampilannya sangat identik dengan arsitektur Sumatera Utara, material yang digunakan untuk membangun Batakhaus berasal dari lingkungan sekitar Emsland.
Bagian fondasi, misalnya, menggunakan batu-batu alam atau findlinge yang ditemukan di kawasan Hümmling.
Sementara struktur rumah dibuat dari kayu ek tua dan kayu ek rawa atau Emseiche yang dikenal kuat. Untuk bagian atap, Batakhaus menggunakan alang-alang atau ilalang (reet) sebagai pengganti ijuk yang lazim digunakan pada rumah tradisional Batak di Sumatera.
Penggunaan bahan-bahan lokal tersebut menciptakan perpaduan antara teknik konstruksi setempat di Jerman dengan bentuk dan filosofi arsitektur tradisional Batak.
Bisa Dikunjungi Wisatawan
Batakhaus kini menjadi salah satu tempat yang memperkenalkan budaya Batak kepada masyarakat di Jerman.
Pengunjung juga dapat melihat langsung bangunan tersebut dengan biaya masuk yang relatif terjangkau. Tiket untuk pengunjung dewasa dibanderol 1 Euro, sedangkan anak-anak mulai usia 6 tahun dikenakan tarif 0,50 Euro.
Bagi rombongan yang ingin mendapatkan penjelasan lebih mendalam, tersedia pula layanan tur berpemandu. Biayanya sebesar 10 Euro per kelompok.
Keberadaan Batakhaus di Werpeloh menunjukkan bahwa warisan budaya Batak tidak hanya dikenal di Sumatera Utara. Ribuan kilometer dari Tanah Batak, sebuah rumah adat tetap berdiri sebagai pengingat hubungan sejarah, pertukaran budaya, dan ketertarikan masyarakat Jerman terhadap kehidupan serta tradisi Batak.


