Upaya menjaga warisan intelektual masyarakat Batak terus dilakukan melalui digitalisasi pustaha yang selama puluhan hingga lebih dari satu abad tersebar di berbagai museum, perpustakaan, dan koleksi pribadi, baik di Indonesia maupun luar negeri.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ini mendigitalisasi koleksi tersebut melalui riset Digitisasi Pustaha Batak dan Penyusunan Data Raya Digital. Program ini mendapat dukungan BRIN, NWO, dan Kementerian Kebudayaan.
Pustaha merupakan manuskrip tradisional masyarakat Batak yang menjadi media bagi para datu untuk mencatat sekaligus mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya. Kandungannya sangat beragam, mulai dari pengobatan, pertanian, hukum, ekonomi, hingga berbagai pengetahuan mengenai ritual.
Namun, memahami isi pustaha bukan perkara sederhana. Manuskrip tersebut ditulis menggunakan aksara Batak dan bahasa khusus yang dikenal sebagai Hata Poda. Bahasa ini memiliki istilah serta struktur yang berbeda dengan bahasa Batak yang digunakan masyarakat saat ini.
Selain persoalan bahasa dan aksara, pengetahuan dalam pustaha secara tradisional juga diwariskan secara terbatas melalui lingkungan para datu.
Pustaha Ungkap Jejak Pertukaran Pengetahuan
Periset Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN, Lolita Tobing, mengatakan penelitian terhadap pustaha memberikan sudut pandang baru mengenai tradisi literasi masyarakat Batak dalam sejarah intelektual Nusantara.
Menurut Lolita, penelitian menemukan sejumlah kata serapan yang berasal dari berbagai bahasa, termasuk Melayu Kuno, Jawa Kuno, dan Sanskerta.
Temuan tersebut menjadi petunjuk adanya pertukaran pengetahuan antara masyarakat Batak dengan lingkungan budaya lain pada masa lalu.
Meski sebagian masyarakat Batak pada masa lampau tinggal di wilayah yang relatif sulit dijangkau, para cendekiawan tetap memiliki kemungkinan berinteraksi dengan pengetahuan dari luar. Pengetahuan yang diterima kemudian tidak hanya diserap, tetapi juga diolah dan dikembangkan menjadi tradisi intelektual dengan karakteristik tersendiri.
Mengenal Jaringan Cendekiawan Hadatuon
Penelitian terhadap pustaha juga menemukan adanya jaringan cendekiawan kuno yang disebut Hadatuon.
Jaringan tersebut berperan dalam menjaga, mengembangkan, dan meneruskan pengetahuan melalui hubungan antara datusebagai praktisi ilmu, guru sebagai pengajar, dan sisean sebagai murid.
Keberadaan Hadatuon sekaligus menunjukkan bahwa pengetahuan dalam masyarakat Batak memiliki pembagian atau spesialisasi tertentu.
Sejumlah pustaha mencatat para datu yang memiliki keahlian di berbagai bidang, seperti pengobatan, mantra dan ritual, pengajaran, penyalinan pustaha, hingga hukum adat.
Sistem Pewarisan Pengetahuan Mirip Sitasi
Hal menarik lainnya terlihat dari cara pengetahuan diwariskan dalam pustaha. Penelitian menemukan adanya mekanisme yang memiliki kemiripan dengan praktik sitasi dalam sistem akademik modern.
Para datu dapat mencantumkan jenis ilmu yang dipelajari, gelar kedatuan atau goar ni Hadatuon milik guru, hingga daerah asal guru yang menjadi sumber pengetahuan.
Pencantuman tersebut menunjukkan bahwa tradisi intelektual Batak memiliki mekanisme untuk mengakui sumber pengetahuan dan otoritas keilmuan.
Dengan demikian, pustaha tidak hanya menjadi catatan mengenai suatu pengetahuan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan tersebut diperoleh, dipelajari, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sebanyak 515 Koleksi Pustaha Telah Teridentifikasi
Dalam penelitian yang dilakukan hingga saat ini, tim telah mengidentifikasi sekitar 515 koleksi pustaha. Dari jumlah tersebut, sebanyak 152 koleksi atau sekitar 29,5 persen telah berhasil didigitalisasi.
Koleksi yang sudah masuk dalam proses digitalisasi berasal dari sejumlah institusi, antara lain Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, Perpustakaan Universitas Leiden, dan Wereldmuseum Amsterdam.
Sementara itu, ratusan koleksi lainnya masih tersimpan di berbagai lembaga di Indonesia maupun luar negeri. Di antaranya Museum Nasional Republik Indonesia, Perpustakaan Nasional RI, British Library, Bibliothèque nationale de France, dan John Rylands Library.
Koleksi pustaha juga diketahui berada di sejumlah institusi yang tersebar di Jerman, Belanda, dan Denmark.
Dibangun Menjadi Data Raya Digital
Data dari berbagai koleksi tersebut selanjutnya diarahkan untuk diintegrasikan ke dalam Data Raya Digital Pustaha Batak BRIN.
Basis data tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan salinan visual manuskrip. Informasi yang dihimpun juga mencakup metadata mengenai kodikologi, filologi, ikonografi, material, teknik pembuatan, asal-usul koleksi, serta kondisi pelestarian manuskrip.
Dengan kelengkapan data tersebut, digitalisasi diharapkan dapat mendukung penelitian dari berbagai disiplin ilmu. Potensinya mencakup bidang arkeologi, filologi, antropologi, sejarah seni, hingga konservasi.
Data yang terkumpul juga dapat dikembangkan untuk mendukung teknologi pengenalan aksara serta pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam penelitian manuskrip.
Membuka Akses terhadap Pengetahuan Batak
Digitalisasi pustaha menjadi langkah penting untuk menjaga manuskrip agar tidak hanya bertahan sebagai benda koleksi, tetapi juga dapat dipelajari dari sisi pengetahuan yang terkandung di dalamnya.
Lolita menilai upaya tersebut diharapkan mampu membuka akses yang lebih luas terhadap tradisi intelektual masyarakat Batak yang selama ini tersebar di berbagai penjuru dunia.
Dengan menggabungkan digitalisasi, dokumentasi metadata, dan penelitian lintas disiplin, pustaha diharapkan dapat terus dikaji oleh generasi mendatang. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari pelestarian warisan pengetahuan Batak dan jejak perjalanan intelektual Nusantara.


