Merantau telah menjadi bagian dari kehidupan sejumlah kelompok masyarakat di Indonesia. Keputusan meninggalkan kampung halaman biasanya dilakukan untuk mencari pekerjaan, melanjutkan pendidikan, meningkatkan taraf hidup, maupun membangun kehidupan baru di daerah lain.
Budaya merantau bahkan telah melekat pada sejumlah suku di Indonesia, seperti Batak, Minangkabau, Bugis, hingga Jawa. Berdasarkan data Sensus Penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirangkum GoodStats, etnik Batak tercatat memiliki proporsi migran seumur hidup paling tinggi dibandingkan sejumlah kelompok etnik lainnya.
Menariknya, meskipun jumlah orang Batak yang tinggal di luar daerah asal cukup besar, populasi etnik ini masih banyak terkonsentrasi di Pulau Sumatra. Sebagian lainnya kemudian menyebar ke berbagai wilayah Indonesia, termasuk Pulau Jawa.
Batak Memiliki Persentase Migran Seumur Hidup Tertinggi
Data yang dirangkum GoodStats dari BPS menunjukkan adanya perbedaan persentase migran seumur hidup di antara sejumlah suku di Indonesia.
Berikut 10 etnik dengan persentase migran seumur hidup tertinggi:
- Batak: 16,77 persen
- Betawi: 16,36 persen
- Bugis: 16,21 persen
- Minangkabau: 16,03 persen
- Jawa: 12,39 persen
- Banjar: 7,11 persen
- Melayu: 7,07 persen
- Bali: 6,34 persen
- Sunda: 5,36 persen
- Madura: 2,75 persen
Angka tersebut menunjukkan bahwa tradisi berpindah dari daerah asal bukan hanya dimiliki oleh masyarakat Batak. Namun, dalam rangkuman data tersebut, Batak menempati posisi pertama dalam persentase migran seumur hidup.
Kondisi Daerah Asal dan Dorongan Ekonomi
Tingginya angka migrasi masyarakat Batak berkaitan dengan sejumlah faktor. Penelitian Hidayat dalam Anthrops: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya menyebut keputusan merantau tidak dapat dilepaskan dari kondisi lingkungan di daerah asal serta nilai-nilai budaya yang berkembang dalam masyarakat Batak.
Secara geografis, sebagian wilayah asal masyarakat Batak berada di kawasan dataran tinggi dan perbukitan di sepanjang Bukit Barisan. Kondisi geografis tersebut, ditambah karakter lahan yang relatif terbatas, dapat memengaruhi produktivitas ekonomi masyarakat.
Situasi tersebut membuat sebagian keluarga menghadapi keterbatasan pendapatan ketika harus memenuhi berbagai kebutuhan. Biaya pendidikan anak, kebutuhan kesehatan, hingga pengeluaran yang berkaitan dengan pelaksanaan upacara adat menjadi sejumlah kebutuhan yang harus dipenuhi.
Dalam kondisi seperti itu, merantau menjadi salah satu pilihan untuk memperoleh penghasilan dan kesempatan ekonomi yang lebih luas.
Empat Nilai yang Mendorong Kehidupan Orang Batak
Dorongan ekonomi tersebut kemudian bertemu dengan nilai-nilai yang menjadi bagian dari pandangan hidup masyarakat Batak. Dalam budaya Batak dikenal sejumlah tujuan kehidupan yang sering dirangkum dalam empat nilai, yakni hagabeon, hasangapon, hamoraon, dan hamajuon.
Hagabeon berkaitan dengan harapan memiliki keturunan yang berhasil. Sementara hasangapon merujuk pada kehormatan atau kedudukan sosial, hamoraon berkaitan dengan kesejahteraan atau kemakmuran, sedangkan hamajuon menekankan kemajuan, termasuk dalam bidang pendidikan.
Nilai-nilai tersebut membuat keberhasilan keluarga tidak hanya dipandang dari kondisi ekonomi, tetapi juga dari pencapaian anak-anak dalam pendidikan dan kehidupan sosial.
Salah satu prinsip yang turut menggambarkan pentingnya anak bagi keluarga Batak adalah Anakhonki do hamoraon di ahu. Ungkapan tersebut bermakna bahwa anak merupakan harta yang paling berharga bagi orang tua.
Karena itu, pendidikan anak menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian besar. Orang tua berupaya memberikan kesempatan pendidikan setinggi mungkin agar anak memiliki masa depan yang lebih baik.
Terbatasnya Pendidikan dan Lapangan Kerja
Persoalannya, kesempatan untuk memperoleh pendidikan tinggi dan pekerjaan dengan pilihan yang beragam tidak selalu tersedia di daerah asal.
Keterbatasan tersebut kemudian mendorong sebagian generasi muda Batak untuk meninggalkan kampung halaman dan mencari kesempatan di kota-kota yang menjadi pusat pendidikan, perdagangan, bisnis, maupun kawasan industri.
Dalam budaya Batak, aktivitas meninggalkan kampung halaman untuk mencari kehidupan di tempat lain dikenal sebagai mangaranto. Bagi sebagian orang, perantauan menjadi jalan untuk memperoleh pengalaman, pendidikan, pekerjaan, sekaligus meningkatkan kondisi ekonomi keluarga di kampung halaman.
Dalihan Na Tolu Memperkuat Jaringan Perantau
Keputusan untuk merantau juga tidak selalu berarti seseorang harus menghadapi lingkungan baru seorang diri. Masyarakat Batak memiliki sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu yang menjadi salah satu fondasi hubungan sosial dalam kehidupan masyarakat.
Jaringan kekerabatan tersebut dapat menjadi modal sosial bagi orang yang baru tiba di daerah perantauan. Kerabat semarga maupun keluarga yang telah lebih dahulu tinggal di kota tujuan dapat membantu memberikan informasi mengenai pekerjaan, tempat tinggal, hingga berbagai kebutuhan untuk beradaptasi.
Keberadaan jaringan tersebut membuat proses memasuki lingkungan baru menjadi lebih mudah. Perkembangan teknologi komunikasi dan media sosial juga semakin memperluas hubungan antarsesama perantau sehingga informasi dapat diperoleh dengan lebih cepat.
Dengan demikian, tradisi merantau dalam masyarakat Batak tidak semata-mata berkaitan dengan keinginan mencari penghasilan. Faktor kondisi ekonomi daerah asal, keterbatasan kesempatan pendidikan dan pekerjaan, nilai-nilai budaya, serta kuatnya jaringan kekerabatan turut membentuk keputusan untuk mangaranto.
Bagi sebagian masyarakat Batak, keberhasilan di perantauan juga berkaitan dengan harapan untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga serta memenuhi nilai-nilai yang dijunjung dalam kehidupan sosial dan budaya mereka.


