Jauh sebelum agama Islam dan Kristen berkembang di Tanah Simalungun, masyarakat setempat telah mengenal sistem kepercayaan tradisional yang disebut Habonaron. Dalam keyakinan tersebut, terdapat sosok tertinggi bernama Naibata yang dipercaya sebagai pencipta alam semesta sekaligus sumber kehidupan.
Penulis sekaligus akademisi Erond L. Damanik menjelaskan, konsep mengenai ketuhanan telah dikenal dalam sistem kepercayaan asli masyarakat Simalungun. Naibata menempati kedudukan paling tinggi dalam struktur keyakinan Habonaron.
“Habonaron adalah agama atau keyakinan asli orang Simalungun. Sama seperti agama-agama tradisional lainnya, agama ini memiliki dewata tertinggi yang disebut Naibata (Tuhan), serta memiliki dewa-dewi hingga melahirkan manusia pertama di Desa Naualuh yang kemudian tersebar ke seluruh Simalungun,” ujar Erond.
Naibata dalam Kosmologi Habonaron
Konsep mengenai sosok pencipta tertinggi juga dikenal dalam berbagai sistem kepercayaan tradisional di Nusantara. Bagi masyarakat Simalungun, konsep tersebut tercermin melalui Naibata yang dipercaya menjadi sumber kehidupan sekaligus pencipta alam semesta.
Keberadaan Naibata menunjukkan bahwa masyarakat Simalungun pada masa lalu telah memiliki sistem keyakinan yang terstruktur. Di dalamnya terdapat pemahaman mengenai kekuatan tertinggi yang mengatur kehidupan manusia dan alam.
Menurut Erond, Naibata menjadi sumber penciptaan dalam kosmologi Habonaron. Dari keyakinan tersebut kemudian berkembang pemahaman mengenai kehidupan dan tatanan dunia yang dipercaya oleh masyarakat Simalungun.
Kepercayaan tersebut juga tidak dapat dipisahkan dari cara masyarakat Simalungun memandang hubungan antara manusia dan lingkungan. Kehidupan dipahami sebagai sesuatu yang harus dijalankan dengan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan jagat raya.
“Agama ini berintikan kebajikan tentang sesama manusia, hewan, tumbuhan ataupun lingkungan. Ini adalah keseimbangan antara makrokosmos dan mikrokosmos yakni manusia dan lingkungan alam atau jagad raya,” kata Erond.
Pandangan tersebut menempatkan manusia bukan hanya sebagai bagian dari kehidupan sosial, tetapi juga sebagai bagian dari alam dan tatanan spiritual. Oleh sebab itu, kebajikan, keseimbangan, dan penghormatan terhadap lingkungan menjadi bagian penting dalam nilai-nilai yang berkembang di masyarakat Simalungun.
Catatan Habonaron Sejak Awal Abad ke-20
Keberadaan Naibata dan sistem kepercayaan Habonaron juga tercatat dalam sejumlah kajian mengenai masyarakat Simalungun. Salah satunya berasal dari peneliti Belanda J. Tideman yang pada 1922 mendokumentasikan kisah mengenai penciptaan jagat raya dan manusia menurut masyarakat Simalungun.
Menurut Erond, catatan tersebut menjadi salah satu dokumentasi awal mengenai kehidupan keagamaan masyarakat Simalungun pada masa itu.
“Dalam bukunya tahun 1922, J. Tideman menyalin kisah penciptaan jagad raya dan manusia di Simalungun. Itu adalah catatan perdana yang mengisahkan tentang kehidupan agama Habonaron di Simalungun,” katanya.
Catatan etnografi tersebut memperlihatkan bahwa Habonaron tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan ritual keagamaan. Kepercayaan tersebut juga mencakup pandangan mengenai asal-usul manusia, penciptaan alam semesta, serta hubungan manusia dengan dunia spiritual.
Dalam kerangka pemikiran tersebut, Naibata memiliki posisi sentral sebagai sosok tertinggi yang menjadi sumber penciptaan dan kehidupan.
Jejak Habonaron dalam Tradisi Simalungun
Seiring perkembangan agama-agama besar di Tanah Simalungun, Habonaron tidak lagi dianut secara luas seperti pada masa sebelumnya. Meski demikian, jejak nilai dan pandangan yang berkembang dalam kepercayaan tersebut masih dapat ditelusuri melalui adat serta tradisi masyarakat Simalungun.
Nilai-nilai yang sebelumnya berkaitan dengan keyakinan terhadap Naibata kemudian diwariskan melalui kebudayaan dan falsafah hidup. Prinsip mengenai kebajikan, keseimbangan, serta hubungan manusia dengan alam menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dikenang.
Erond menjelaskan, meskipun kepercayaan Habonaron telah mengalami kemunduran, nilai-nilai yang lahir dari keyakinan tersebut masih memiliki jejak dalam kehidupan masyarakat Simalungun hingga saat ini.
Bagi sejarawan dan peneliti budaya, keberadaan konsep Naibata juga menjadi bagian penting untuk memahami perkembangan pemikiran religius masyarakat Simalungun pada masa lalu. Konsep tersebut tidak hanya menjelaskan mengenai asal-usul kehidupan dan alam semesta, tetapi juga berkaitan dengan pembentukan nilai kebajikan dan hubungan manusia dengan lingkungannya.
Dengan demikian, mengenal Naibata bukan sekadar memahami sosok tertinggi dalam kepercayaan Habonaron. Lebih dari itu, konsep Naibata membuka gambaran mengenai cara masyarakat Simalungun pada masa lalu memahami asal-usul kehidupan, hubungan manusia dengan alam, serta keterkaitan manusia dengan kekuatan spiritual yang diyakini berada di atasnya.


