Kisah Opung Sagala, Nenek Berusia 1 Abad Penjaga Rumah Tanah Tertua di Samosir (via @jonesdospy18/Instagram).
Kisah Opung Sagala, Nenek Berusia 1 Abad Penjaga Rumah Tanah Tertua di Samosir (via @jonesdospy18/Instagram).
Beranda Budaya Kisah Opung Sagala, Nenek Berusia 1 Abad Penjaga Rumah Tanah Tertua di Samosir
Budaya

Kisah Opung Sagala, Nenek Berusia 1 Abad Penjaga Rumah Tanah Tertua di Samosir

Bagikan

Horas!

Di perbukitan Sianjur Mula Mula, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, berdiri sebuah rumah tua berdinding tanah yang menyimpan kisah panjang tentang kehidupan leluhur masyarakat Batak. Rumah yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun itu kini dihuni oleh Opung Sagala, seorang nenek berusia lebih dari satu abad yang tetap tinggal di rumah warisan keluarganya.

Rumah tersebut berada di pintu masuk Air Terjun Naisogop dan sempat menarik perhatian masyarakat setelah ramai diperbincangkan di media sosial. Keunikan bangunannya serta kisah Opung Sagala yang masih menetap di sana membuat rumah ini menjadi salah satu objek yang menarik untuk dikenal di Samosir.

Rumah yang Diyakini Berusia 580 Tahun

Berdasarkan penelusuran detikSumut, Opung Sagala terlihat duduk di depan rumah mengenakan baju berwarna marun dan sarung. Di dekatnya terdapat sebuah ember berisi dua ekor ikan segar yang diberikan oleh wisatawan setelah berkunjung ke air terjun.

“Bentar lagi anakku datang, mau dimasak ikannya,” ungkap Opung Sagala dalam bahasa Batak seperti yang dikutip dari detikSumut.

Opung Sagala menuturkan bahwa rumah yang ditempatinya telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun. Menurut ingatannya, bangunan tersebut sudah berdiri jauh sebelum kedatangan Belanda ke wilayah tersebut.

“Rumah ini umurnya 580 tahun. Zaman dulu, sebelum Belanda datang, rumah ini sudah ada. Aku ingat itu, aku tidak tahu baca tulis. Jadi sebelum ada perang, rumah ini sudah ada,” tuturnya.

Kisah tersebut menjadi bagian dari cerita yang terus hidup di tengah keluarga Opung Sagala. Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga peninggalan leluhur yang tetap dipertahankan hingga generasi sekarang.

Keunikan Dinding Rumah dari Tanah dan Jerami

Salah satu hal yang membedakan rumah Opung Sagala dari bangunan pada umumnya adalah material yang digunakan untuk membangun dindingnya.

Menurut penuturan Opung Sagala, leluhurnya membangun rumah tersebut dengan memanfaatkan tanah dan jerami padi. Material sederhana itu digunakan sebagai bagian dari struktur dinding bangunan.

“Mereka (leluhur) membuat rumah dari tanah, tulang temboknya dibuat dari jerami padi,” ujarnya.

Rumah tersebut juga memiliki cerita yang berkembang dari generasi ke generasi. Konon, ketebalan dindingnya dipercaya mampu menahan peluru pada masa perang. Namun, kisah tersebut merupakan penuturan yang diwariskan dan memerlukan bukti historis untuk memastikan kebenarannya.

Keberadaan rumah berdinding tanah ini memperlihatkan cara leluhur memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar untuk membangun tempat tinggal.

Menarik Perhatian Wisatawan, tetapi Bagian Dalam Rumah Tetap Tertutup

Keunikan rumah dan cerita mengenai usianya membuat sejumlah pengunjung tertarik untuk melihat langsung kediaman Opung Sagala. Lokasinya yang berada di dekat akses menuju Air Terjun Naisogop turut membuat rumah tersebut dikenal oleh wisatawan yang datang ke kawasan itu.

Meski demikian, pengunjung tidak diperbolehkan memasuki bagian dalam rumah. Opung Sagala memilih menjaga ruang pribadinya agar tetap tertutup bagi orang yang datang berkunjung.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun rumah tersebut menarik perhatian sebagai bangunan bersejarah, kediaman itu tetap merupakan tempat tinggal pribadi yang perlu dihormati.

Menjalani Hari di Tengah Keterbatasan Fisik

Di usianya yang telah lebih dari satu abad, kondisi fisik Opung Sagala sudah cukup renta. Ia tidak lagi mampu berjalan dan mengalami gangguan penglihatan akibat katarak. Aktivitas sehari-harinya pun menjadi terbatas, termasuk ketika hendak menuju kamar mandi yang terletak di samping rumah.

Dalam kesehariannya, Opung Sagala ditemani sekitar enam ekor anjing yang berada di sekitar kediamannya. Hewan-hewan tersebut terkadang menggonggong ketika melihat orang asing mendekati rumah.

Jika suara gonggongan dinilai terlalu ramai, Opung Sagala sesekali menyuruh anjing-anjingnya untuk diam.

Di tengah keterbatasan fisiknya, ia masih menjalani kehidupan di rumah yang telah menjadi bagian dari perjalanan keluarganya selama beberapa generasi.

Menjaga Warisan Leluhur di Perbukitan Samosir

Kisah Opung Sagala memperlihatkan hubungan erat antara sebuah rumah tua, sejarah keluarga, dan kehidupan masyarakat di kawasan Sianjur Mula Mula. Bangunan berdinding tanah itu menjadi pengingat akan cara hidup leluhur serta tradisi membangun rumah dengan memanfaatkan bahan-bahan alami.

Meski usia pasti rumah tersebut belum dapat dipastikan hanya berdasarkan penuturan penghuninya, keberadaannya tetap menyimpan cerita budaya yang menarik untuk ditelusuri lebih lanjut.

Bagi masyarakat yang ingin mengenal sejarah dan kehidupan tradisional di Samosir, rumah Opung Sagala menjadi salah satu kisah yang memperlihatkan bagaimana warisan masa lalu masih hadir di tengah kehidupan masa kini. Di balik dinding tanahnya, tersimpan cerita keluarga dan ingatan tentang leluhur yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Bagikan
ads image
ads image
ads image
Artikel Terkait
Legenda Tuan Saribu Raja dan Siboru Pareme.
BudayaHighlight

Legenda Tuan Saribu Raja dan Siboru Pareme

Horas! Kekayaan budaya Batak Toba tidak hanya tercermin melalui adat istiadat, aksara,...

Mengenal Tandok, Wadah Anyaman Khas Batak Toba.
BudayaHighlight

Mengenal Tandok, Wadah Anyaman Khas Batak Toba

Horas! Pernah melihat perempuan Batak membawa wadah anyaman berisi beras di atas...

Ilustrasi kambing Samosir.
Budaya

Mengenal Kambing Samosir, Hewan Persembahan dalam Budaya Batak

Horas! Pulau Samosir di Sumatera Utara dikenal sebagai salah satu kawasan yang...

Mengenal Makna 8 Motif Gorga Batak Toba, Ukiran Tradisional yang Sarat Filosofi.
Budaya

Mengenal Makna 8 Motif Gorga Batak Toba, Ukiran Tradisional yang Sarat Filosofi

Horas! Rumah adat Batak Toba memiliki ciri khas yang mudah dikenali melalui...