Shantell Vocal Ensemble, kelompok paduan suara wanita asal Jakarta, berhasil menorehkan prestasi di panggung internasional. Mereka meraih juara pertama dalam dua kategori pada ajang Sing & Smile Choral Singing Competitionyang berlangsung di Tbilisi, Georgia, pada 20–25 Oktober 2026.
Tidak hanya membawa pulang penghargaan, Shantell Vocal Ensemble juga memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui penampilan yang memadukan harmoni vokal, koreografi, dan busana tradisional bernuansa Batak yang terinspirasi dari pakaian khas Sumatera Utara.
Di bawah arahan pelatih David Hartono Chendra dan Luciana Dharmadi Oendoen, serta penasihat artistik Avip Priatna, Shantell Vocal Ensemble berhasil meraih posisi pertama pada kategori Female Choir dan Folklore. Pencapaian tersebut sekaligus mengantarkan mereka memperoleh gelar juara Grand Prix dalam kompetisi tersebut.
Tampil dengan Busana Bernuansa Batak di Panggung Internasional
Salah satu hal menarik dari penampilan Shantell Vocal Ensemble adalah upaya mereka membawa identitas budaya Indonesia ke panggung internasional. Para anggota tampil mengenakan pakaian tradisional yang mengambil inspirasi dari desain busana bernuansa Batak.
Busana bernuansa Batak tersebut menjadi bagian dari cara mereka memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada penonton dari berbagai negara. Penampilan mereka juga dilengkapi koreografi yang disesuaikan dengan lagu-lagu yang dibawakan.
Pada kategori Folklore, Shantell Vocal Ensemble membawakan tiga lagu dari berbagai daerah dan negara, yakni Paris Barantai, lagu tradisional Banjar dari Kalimantan Selatan yang diaransemen Ken Steven; Las Amarillas, lagu tradisional Meksiko yang diaransemen Stephen Hatfield; serta Sajojo, lagu tradisional Papua yang diciptakan David Rumagesan dari Black Brothers dan diaransemen Vatara A Silalahi.
Perpaduan lagu dari berbagai latar budaya tersebut menjadi salah satu cara Shantell Vocal Ensemble menghadirkan keberagaman musik dalam satu penampilan.
Bawakan Lagu Tradisional Pakpak hingga Karya Klasik
Selain kategori Folklore, Shantell Vocal Ensemble juga tampil pada kategori Female Choir dengan membawakan tiga lagu, yaitu La Fede karya Gioacchino Rossini, Salve Regina karya Josu Elberdin, dan Cikala Le Pong Pong.
Menariknya, Cikala Le Pong Pong merupakan lagu tradisional Pakpak yang diaransemen oleh Ken Steven. Kehadiran lagu tersebut turut memperkenalkan salah satu kekayaan musik tradisional Sumatera Utara melalui format paduan suara wanita.
Dengan pilihan repertoar yang beragam, Shantell Vocal Ensemble tidak hanya menampilkan karya musik klasik, tetapi juga membawa lagu-lagu tradisional Indonesia ke hadapan peserta dan penonton internasional.
Indonesia Jadi Satu-satunya Peserta dari Asia Tenggara
Kompetisi Sing & Smile Choral Singing Competition diikuti oleh enam negara, yaitu Georgia sebagai tuan rumah, Slovakia, Republik Ceko, Serbia, Kazakhstan, dan Indonesia.
Dalam penyelenggaraan tahun ini, Indonesia menjadi satu-satunya negara dari kawasan Asia Tenggara yang berpartisipasi. Shantell Vocal Ensemble juga tercatat sebagai paduan suara pertama dari Indonesia yang mengikuti kompetisi tersebut sejak ajang ini diselenggarakan.
Keikutsertaan dan keberhasilan mereka menjadi pencapaian tersendiri bagi dunia paduan suara Indonesia, sekaligus membuka kesempatan untuk memperkenalkan karya musik serta budaya Nusantara kepada masyarakat internasional.
Shantell Vocal Ensemble, Berdiri Sejak 2004
Shantell Vocal Ensemble merupakan kelompok paduan suara wanita yang dibentuk pada 20 Agustus 2004 oleh Avip Priatna bersama para murid menyanyi wanitanya. Kelompok ini lahir dari kecintaan terhadap musik paduan suara dan telah berkembang menjadi salah satu kelompok paduan suara wanita yang dikenal di Indonesia.
Berbasis di Jakarta, Shantell Vocal Ensemble memiliki anggota dengan latar belakang usia dan profesi yang beragam. Para anggotanya berasal dari berbagai bidang pekerjaan, mulai dari ibu rumah tangga, karyawan perusahaan, kepala sekolah, guru, notaris, hingga profesi lainnya. Rentang usia anggotanya pun cukup luas, mulai dari pertengahan 20 tahun hingga lebih dari 70 tahun.
Selama perjalanan kariernya, Shantell Vocal Ensemble rutin mengikuti berbagai kompetisi paduan suara internasional dan menggelar konser amal sebagai bentuk kepedulian kepada sesama.
Nama kelompok ini juga sempat menjadi perhatian di media sosial melalui video penampilan lagu Ratu Sejagad, ciptaan Dani Mamesah dengan aransemen paduan suara oleh Arif Dharma. Penampilan yang harmonis dan penuh penghayatan tersebut mendapat respons positif, terutama dari generasi muda.
Bagi sebagian warganet, kebersamaan para anggota Shantell Vocal Ensemble menjadi gambaran friendship goals dan retirement goals: tetap aktif, produktif, menjaga kebugaran, serta terus berkarya bersama teman-teman meskipun usia terus bertambah.
Prestasi di Tbilisi, Georgia, semakin memperlihatkan konsistensi Shantell Vocal Ensemble dalam berkarya. Melalui kemenangan di dua kategori sekaligus, mereka tidak hanya membawa pulang gelar juara, tetapi juga memperkenalkan keberagaman musik dan inspirasi budaya Indonesia, termasuk kekayaan tradisi Sumatera Utara, ke panggung dunia.


