Horas!
Mata uang Garuda kembali berada di titik nadir. Pada perdagangan Selasa (12/5/2026), Rupiah mencatatkan sejarah kelam baru dengan menembus level psikologis Rp17.505/US$. Pelemahan ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan puncak dari serangkaian tekanan ekonomi dan geopolitik yang panjang.
Berikut adalah rekam jejak titik-titik genting yang pernah mengguncang nilai tukar Rupiah dalam sejarah Indonesia:
1. Awal Badai Krisis (Agustus – Oktober 1997)
Inilah awal mula Krisis Moneter. Rupiah yang semula stabil di angka Rp2.500 merosot ke kisaran Rp3.000-an. Akibat cadangan devisa yang terus terkuras, Bank Indonesia terpaksa melepaskan sistem managed floating menjadi mengambang bebas. Kondisi ini memaksa pemerintah meminta bantuan IMF yang berujung pada penutupan 16 bank swasta.
2. Puncak Krisis Multidimensi (Mei – Juni 1998)
Tahun 1998 menjadi periode paling traumatis. Secara intraday, Rupiah bahkan sempat menyentuh Rp16.800/US$. Tragedi Trisakti dan kerusuhan massal mengubah krisis ekonomi menjadi krisis politik yang berujung pada lengsernya Presiden Soeharto.
3. Gejolak Politik Reformasi (April 2001)
Ketidakpastian politik kembali menghantam kurs saat terjadi ketegangan antara Presiden Gus Dur dengan parlemen. Hubungan yang mendingin dengan IMF membuat nilai tukar terjerembap di rentang Rp10.500 hingga Rp12.000/US$.
4. Tsunami Finansial Global (Oktober – November 2008)
Runtuhnya pasar perumahan AS dan bangkrutnya Lehman Brothers memicu kepanikan dunia. Investor berbondong-bondong memindahkan dana ke aset aman (safe haven), menyebabkan Rupiah terseret dari level Rp9.000 ke kisaran Rp12.000/US$.
5. Efek Normalisasi Kebijakan AS (September 2015)
Normalisasi moneter oleh The Fed dan devaluasi Yuan China memicu kelangkaan valas di pasar domestik. Di pertengahan 2015, Rupiah melemah hingga ke level Rp14.645/US$.
6. Guncangan Emerging Market (September – Oktober 2018)
Krisis yang menimpa Turki dan Argentina memberikan efek domino bagi Indonesia. Investor yang menghindari risiko di negara berkembang membuat Rupiah tertekan hingga Rp15.230/US$.
7. Pandemi Covid-19 (Maret 2020)
Dunia lumpuh akibat virus corona. Kepanikan global membuat Rupiah anjlok hingga Rp16.550/US$, level terlemah sejak krisis 1998, seiring dengan aksi jual besar-besaran oleh investor asing.
8. Era Suku Bunga Tinggi (Mei – Juni 2024)
Kebijakan suku bunga tinggi The Fed yang bertahan lama demi melawan inflasi AS memicu penarikan modal besar-besaran dari pasar berkembang. Rupiah pun kembali tersungkur ke level Rp16.400-an.
9. Sentimen Kebijakan Tarif Trump (April 2025)
Pasar keuangan kembali berguncang setelah Presiden Donald Trump mengumumkan tarif global yang agresif. Rupiah sempat menyentuh rekor intraday baru di posisi Rp16.970/US$.
10. Defisit Fiskal & Ketidakpastian Global (Januari 2026)
Memasuki 2026, kekhawatiran terhadap defisit APBN Indonesia yang mencapai 2,92% serta data ekonomi AS yang solid membuat Rupiah kian terpojok di level Rp16.935/US$.
11. Tembusnya Level Psikologis Rp17.000 (April 2026)
Hanya dalam waktu singkat, Rupiah melampaui angka Rp17.000 dan terus merosot ke Rp17.300. Meskipun BI berupaya menahan suku bunga acuan di 4,75%, volatilitas pasar akibat konflik di Timur Tengah terlalu kuat untuk dibendung.
12. Krisis Energi & Gencatan Senjata yang Gagal (Mei 2026)
Situasi mencapai titik kritis hari ini. Pernyataan Donald Trump mengenai kegagalan gencatan senjata antara AS-Israel dengan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia. Ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Teheran membuat indeks dolar melesat, menyeret Rupiah ke posisi terlemah sepanjang sejarah di level Rp17.505/US$.


