Mengenal Kacang Sihobuk, Oleh-oleh Khas Tarutung.
Mengenal Kacang Sihobuk, Oleh-oleh Khas Tarutung.
Beranda Kuliner Mengenal Kacang Sihobuk, Oleh-oleh Khas Tarutung
Kuliner

Mengenal Kacang Sihobuk, Oleh-oleh Khas Tarutung

Bagikan

Horas!

Kacang Sihobuk menjadi salah satu camilan khas yang identik dengan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Camilan berbahan dasar kacang tanah ini dikenal karena rasanya yang gurih dan teksturnya yang renyah. Tak heran, kacang Sihobuk kerap diburu wisatawan sebagai buah tangan untuk keluarga maupun kerabat.

Di sepanjang perjalanan menuju Tarutung, deretan toko yang menjual kacang Sihobuk cukup mudah ditemukan. Namun, di balik popularitasnya sebagai oleh-oleh khas daerah, kacang ini menyimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan masyarakat setempat, termasuk peristiwa bencana alam yang pernah melanda daerah asalnya.

Berawal dari Desa Sihobuk, Tarutung

Sesuai namanya, kacang Sihobuk berasal dari Desa Sihobuk, kawasan Pearaja, Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Wilayah tersebut berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Tarutung.

Berdasarkan penelitian Irma Simamora dari Universitas Negeri Medan pada 2013, nama kacang Sihobuk berkaitan dengan daerah asal masyarakat yang mengembangkan usaha pembuatan kacang garing.

Awalnya, pembuatan kacang Sihobuk berangkat dari hasil panen kacang tanah yang melimpah. Para petani kemudian sepakat mengolah hasil panen tersebut menjadi camilan dengan cara digongseng.

Pada masa itu, kacang Sihobuk belum diproduksi secara komersial seperti sekarang. Kacang garing tersebut biasanya disajikan sebagai camilan di rumah, dihidangkan kepada tamu, atau dibuat berdasarkan pesanan.

Kebiasaan sederhana ini kemudian berkembang menjadi kegiatan usaha yang dikenal luas oleh masyarakat.

Sejarah Kacang Sihobuk Berkaitan dengan Bencana Alam

Perjalanan kacang Sihobuk tidak terlepas dari peristiwa gempa dan longsor yang terjadi di Desa Sihobuk pada 24 April 1987.

Dalam penelitiannya, Irma Simamora mencatat bahwa bencana tersebut menimbulkan banyak korban jiwa. Warga yang selamat kemudian dipindahkan oleh pemerintah ke Perumahan Nasional Desa Silangkitang, Kecamatan Sipoholon.

Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan kehidupan masyarakat Sihobuk. Mereka harus memulai kembali kehidupan di tempat yang baru, termasuk mencari cara untuk mempertahankan mata pencaharian.

Setelah sekitar tiga tahun terhenti, kegiatan produksi kacang garing kembali dilakukan pada 1990 oleh warga yang selamat dari bencana. Usaha tersebut kemudian menarik perhatian masyarakat sekitar untuk ikut memproduksi dan mengembangkannya.

Sebagai pengingat terhadap daerah asal dan peristiwa yang pernah dialami masyarakatnya, produk tersebut dikenal dengan nama Kacang Garing Sihobuk.

Seiring waktu, usaha yang semula dilakukan secara sederhana mulai berkembang dan menjadi salah satu produk kuliner yang identik dengan Tapanuli Utara.

Proses Pembuatan Kacang Sihobuk

Cita rasa kacang Sihobuk tidak terlepas dari proses pengolahannya. Secara umum, pembuatan camilan ini diawali dengan pemilihan kacang tanah yang akan digunakan.

Setelah dipilih, kacang tanah direndam sebelum menjalani proses penggongsengan hingga matang. Tahap berikutnya adalah penyortiran untuk memisahkan kacang yang kualitasnya kurang baik.

Kacang yang telah melewati proses penyortiran kemudian dikemas dan dipasarkan kepada konsumen.

Proses tersebut menghasilkan camilan dengan cita rasa gurih dan tekstur renyah yang menjadi ciri khas kacang Sihobuk. Produk ini pun terus diminati, baik oleh masyarakat setempat maupun wisatawan yang berkunjung ke kawasan Tarutung.

Menjadi Peluang Usaha bagi Masyarakat

Perkembangan kacang Sihobuk dari camilan rumahan menjadi produk oleh-oleh turut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat yang terlibat dalam proses produksi hingga penjualannya.

Usaha ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengolah bahan pangan menjadi produk bernilai jual. Keberadaan toko-toko yang menjual kacang Sihobuk di kawasan Tarutung juga membantu memperkenalkan produk tersebut kepada para pelancong.

Selain menjadi sumber penghasilan, usaha kacang Sihobuk turut mempertahankan identitas kuliner daerah. Nama yang melekat pada produk ini menjadi pengingat akan asal-usulnya sekaligus perjalanan masyarakat yang mengembangkannya.

Kacang Sihobuk, Oleh-oleh Khas dari Tapanuli Utara

Kini, kacang Sihobuk menjadi salah satu pilihan buah tangan yang mudah dijumpai di toko oleh-oleh sekitar Tarutung. Camilan ini sering dibeli wisatawan untuk dibawa pulang setelah berkunjung ke Tapanuli Utara.

Lebih dari sekadar kacang garing, Kacang Sihobuk menyimpan cerita tentang tradisi pengolahan pangan, perjuangan masyarakat setelah bencana, dan tumbuhnya usaha lokal dari generasi ke generasi.

Sejarah tersebut menjadikan kacang Sihobuk bukan hanya bagian dari kekayaan kuliner Sumatera Utara, tetapi juga salah satu contoh bagaimana produk pangan tradisional dapat menjadi penanda identitas dan perjalanan suatu masyarakat.

Bagikan
ads image
ads image
ads image
Artikel Terkait
Sejarah Ikan Arsik, Hidangan Adat Batak yang Sarat Makna.
Kuliner

Sejarah Ikan Arsik, Hidangan Adat Batak yang Sarat Makna

Horas! Ikan arsik merupakan salah satu kuliner tradisional Sumatera Utara yang memiliki...

Arsik dalam Pernikahan Adat Batak, Hidangan yang Sarat Doa dan Restu.
Kuliner

Arsik dalam Pernikahan Adat Batak, Hidangan yang Sarat Doa dan Restu

Horas! Ikan mas arsik menjadi salah satu hidangan yang hampir selalu hadir...

Bawang Batak, Bumbu Khas yang Memberikan Cita Rasa Unik.
Kuliner

Bawang Batak, Bumbu Khas yang Memberikan Cita Rasa Unik

Horas! Di balik kelezatan berbagai kuliner Batak, terdapat satu bahan yang memiliki...

Kelezatan Babi Panggang yang tiada dua (via Instagram/@laponitondongtapramuka_)
Kuliner

5 Rekomendasi Lapo Batak di Jakarta, Sajikan Menu Autentik dengan Harga Mulai Rp30 Ribuan

Horas! Bagi pecinta kuliner Nusantara, masakan Batak memiliki cita rasa khas yang...