Horas!
Getah kemenyan menjadi salah satu hasil hutan non-kayu unggulan dari Sumatera Utara. Selain dimanfaatkan sebagai bahan obat dan wewangian, kemenyan juga memiliki nilai penting dalam aspek sosial, budaya, hingga ekonomi masyarakat. Bagi masyarakat Batak Toba, kemenyan bukan sekadar komoditas, tetapi juga bagian dari tradisi spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.
Nilai tersebut tercermin dalam berbagai ritual adat, cerita leluhur, hingga cara masyarakat menjaga hutan kemenyan agar tetap lestari. Kehidupan yang selaras dengan alam menjadi prinsip utama dalam pengelolaannya.
Kehidupan Seorang Penyadap Getah Kemenyan
Salah satu sosok yang tumbuh bersama tradisi ini adalah Devi Vebryanti Simanungkalit. Sejak kecil, ia telah akrab dengan kehidupan di hutan kemenyan bersama keluarganya. Kini, Devi juga aktif membagikan edukasi seputar kemenyan melalui media sosial, termasuk pengalaman mendampingi keluarganya di hutan.
Dalam konten yang ia bagikan, terlihat aktivitas sehari-hari saat menyadap kemenyan, termasuk momen ketika neneknya yang sudah lanjut usia masih mampu memanjat pohon kemenyan. Hal ini menjadi pemandangan yang tidak biasa, mengingat pekerjaan tersebut umumnya dilakukan oleh laki-laki.
Devi mengungkapkan bahwa ketertarikannya terhadap hutan sudah muncul sejak kecil. Lingkungan yang masih alami, udara segar, serta kehidupan yang jauh dari hiruk-pikuk kota membuatnya merasa nyaman.
Keluarga Devi sendiri telah lama bergantung pada kemenyan sebagai sumber penghidupan. Tradisi ini dimulai dari neneknya, Rospita Sianturi, yang mulai menjadi petani kemenyan sejak usia muda setelah menikah. Dari sanalah, pengetahuan tentang kemenyan terus diwariskan ke generasi berikutnya.
Meski awalnya hanya mencoba, Rospita akhirnya terbiasa menyadap hingga memanen kemenyan secara mandiri. Setelah kepergian suaminya pada 2006, ia tetap melanjutkan aktivitas tersebut seorang diri sebagai bagian dari tanggung jawab hidup dan tradisi keluarga.
Kehidupan mereka terbagi antara dua desa, yakni Desa Rura Julu Dolok yang dekat dengan hutan kemenyan, serta Desa Situmeang Hasundutan yang lebih ramai. Setiap pekan, Rospita tinggal di pondok dekat hutan untuk menyadap kemenyan, lalu kembali ke desa utama saat akhir pekan.
Di desa yang dekat hutan tersebut, hanya terdapat sekitar 20 keluarga, dan sebagian besar berprofesi sebagai petani kemenyan. Menariknya, Rospita menjadi satu-satunya perempuan yang menjalani pekerjaan tersebut secara aktif.
Di wilayah Tapanuli, kemenyan atau haminjon (Styrax benzoin) telah lama dikenal sebagai komoditas bernilai tinggi, bahkan sejak masa perdagangan Nusantara. Terdapat dua jenis utama kemenyan, yaitu kemenyan Toba dan kemenyan Sumatra, yang keduanya memiliki aroma khas dan diminati di pasar lokal maupun internasional.
Kisah Devi dan keluarganya menunjukkan bahwa kemenyan bukan hanya sumber penghasilan, tetapi juga bagian dari identitas budaya. Di tengah perkembangan zaman, upaya melestarikan tradisi ini menjadi penting agar warisan leluhur tetap hidup dan terus dikenali generasi mendatang.


