Horas!
Dalam perjalanan sejarah Indonesia pascakemerdekaan, terdapat satu episode yang jarang dibahas, yakni berdirinya Negara Sumatera Timur (NST) pada 25 Desember 1947. Selama kurang lebih tiga tahun, wilayah Sumatera Timur—meliputi Medan, Deli, Langkat, hingga Asahan—pernah memiliki sistem pemerintahan sendiri yang terpisah dari Republik Indonesia.
Lahir dari Gejolak Revolusi
Pembentukan NST tidak lepas dari dampak Revolusi Sosial 1946 yang mengguncang tatanan masyarakat kala itu. Peristiwa tersebut menghantam kekuasaan kesultanan-kesultanan lokal, meninggalkan trauma mendalam bagi kalangan bangsawan.
Dalam situasi tersebut, sejumlah tokoh dan elit lokal—dengan dukungan Belanda—mendorong terbentuknya negara baru yang bertujuan menjaga stabilitas serta mempertahankan kepentingan ekonomi, terutama sektor perkebunan yang menjadi tulang punggung wilayah ini.
Sejarawan Anthony Reid dalam bukunya The Blood of the People menyebut bahwa NST merupakan upaya membangun identitas politik baru, sekaligus melindungi kelompok bangsawan Melayu, Simalungun, dan Karo dari gejolak revolusi yang lebih radikal.
Medan sebagai Ibu Kota
Kota Medan ditetapkan sebagai pusat pemerintahan NST. Negara ini memiliki simbol sendiri, termasuk bendera berwarna kuning dan putih. Warna kuning melambangkan kejayaan tradisi Melayu, khususnya Kesultanan Deli, sementara putih mencerminkan nilai kesucian.
Pusat administrasi pemerintahan berada di gedung yang kini dikenal sebagai Kantor Gubernur Sumatera Utara di Jalan Diponegoro. Adapun pemimpin negara ini adalah Tengku Mansyur, seorang tokoh intelektual sekaligus dokter yang cukup berpengaruh di Medan pada masanya.
Dalam kepemimpinannya, Tengku Mansyur berusaha menavigasi posisi NST di tengah tarik-menarik kepentingan antara Belanda dan semangat persatuan Indonesia.
Negara Makmur di Era RIS
Dalam konteks Republik Indonesia Serikat (RIS), NST dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki kekuatan ekonomi besar. Sejarawan M.C. Ricklefs mencatat bahwa kekayaan NST didukung oleh hasil ekspor komoditas seperti tembakau dan karet yang sangat bernilai di pasar internasional.
Berakhir dan Kembali ke NKRI
Meski sempat berdiri sebagai entitas politik tersendiri, keberadaan NST tidak bertahan lama. Pada Agustus 1950, gelombang aspirasi rakyat yang menginginkan kembali ke bentuk negara kesatuan semakin menguat.
Akhirnya, NST dibubarkan dan wilayahnya bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang kemudian menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Utara seperti yang dikenal saat ini.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa perjalanan bangsa Indonesia tidak selalu linear. Ada berbagai dinamika politik dan eksperimen negara yang sempat terjadi, termasuk ketika Medan pernah menjadi ibu kota sebuah negara yang kini nyaris terlupakan dalam ingatan sejarah.


