Asap Karhutla Kian Mengkhawatirkan (dok via ANTARA Foto).
Asap Karhutla Kian Mengkhawatirkan (dok via ANTARA Foto).
Beranda Berita Asap Karhutla Kian Mengkhawatirkan, Pengemudi Ojol Meninggal Usai Sesak Napas
Berita

Asap Karhutla Kian Mengkhawatirkan, Pengemudi Ojol Meninggal Usai Sesak Napas

Bagikan

Horas!

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia kembali menimbulkan kekhawatiran. Kabut asap pekat menyelimuti sebagian kawasan Sumatra dan Kalimantan, sementara sejumlah warga dilaporkan mengalami gangguan kesehatan serius. Salah satu kasus yang menjadi sorotan adalah meninggalnya seorang pengemudi ojek online (ojol) di Palembang, Sumatra Selatan, setelah mengalami sesak napas.

Di tengah situasi tersebut, aktor Hollywood sekaligus pegiat lingkungan Leonardo DiCaprio turut menyoroti dampak karhutla di Indonesia melalui unggahan Instagram. Dalam keterangannya, ia menyebut lebih dari lima juta orang telah terdampak asap kebakaran hutan dan lahan.

Hingga laporan tersebut diterbitkan, belum tersedia laporan resmi mengenai jumlah warga yang meninggal akibat paparan asap karhutla. Meski demikian, kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak dilaporkan mencapai kategori berbahaya bagi kesehatan.

Warga mengeluhkan berbagai gangguan, mulai dari mata perih, hidung dan tenggorokan yang terasa kering atau gatal, hingga kesulitan bernapas. Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi kelompok rentan, termasuk anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit bawaan.

Sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa paparan intens terhadap partikel berbahaya dari asap berkaitan dengan sekitar 33.100 kematian prematur pada orang dewasa dan 2.900 kematian bayi.

Pengemudi Ojol di Palembang Meninggal Setelah Mengalami Sesak Napas

Suasana duka menyelimuti keluarga Hardiansyah, seorang pengemudi ojek online yang tinggal di kawasan Jalan Mataram, Kertapati, Palembang. Pria berusia 41 tahun itu meninggal dunia pada Jumat (2/10/2026), setelah mengalami sesak napas ketika bangun tidur.

Istrinya, Rika Yunita Sari, menceritakan bahwa kondisi suaminya terlihat tidak biasa pada pagi itu. Sekitar pukul 07.00 WIB, Hardiansyah baru bangun tidur, tetapi napasnya terdengar tidak teratur. Ia diketahui memiliki riwayat penyakit asma sejak lahir.

Melihat kondisi tersebut, Rika segera meminta bantuan anggota keluarga untuk membawa Hardiansyah ke rumah sakit.

“Tidak sempat lagi kasih obat. Sudah panik dan langsung ke RS Bari Palembang,” ujar Rika saat ditemui pada Senin (5/10/2026).

Perjalanan menuju rumah sakit yang biasanya memakan waktu sekitar 30 menit menjadi semakin sulit karena kepadatan lalu lintas. Sepanjang perjalanan, Rika melihat suaminya semakin kesulitan bernapas.

Setibanya di RS Bari Palembang, Hardiansyah sempat menjalani pemeriksaan medis. Namun, sekitar pukul 08.30 WIB, tim medis menyatakan nyawanya tidak dapat diselamatkan.

Kepergian Hardiansyah meninggalkan Rika bersama dua anak mereka, seorang putra berusia 18 tahun dan seorang putri berusia 14 tahun.

Riwayat Asma dan Paparan Kabut Asap

Menurut Rika, kondisi kesehatan suaminya kerap terganggu ketika kabut asap menyelimuti Palembang. Hardiansyah sering mengalami batuk dan tenggorokan gatal, terutama setelah beraktivitas di luar rumah.

Kondisi asmanya sempat memburuk pada 15 September 2026, ketika kabut asap di Palembang semakin pekat. Saat itu, keluhannya masih dapat ditangani menggunakan obat dan inhaler yang diresepkan dokter.

Meski menyadari kondisi kesehatannya, Hardiansyah tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia telah lebih dari lima tahun menjadi pengemudi ojol dan bergantian menggunakan mobil maupun sepeda motor untuk mencari penumpang.

Selama kabut asap semakin tebal, Rika mengamati bahwa pesanan untuk perjalanan menggunakan sepeda motor justru lebih banyak diterima suaminya. Hardiansyah tetap berusaha bekerja meski kerap mengeluhkan gangguan pernapasan.

“Suami memang tulang punggung keluarga, hanya dia yang bekerja,” kata Rika.

Ia menuturkan bahwa suaminya biasanya membawa obat dan mengenakan masker ketika mengendarai sepeda motor. Namun, kebiasaan tersebut tidak selalu dilakukan ketika Hardiansyah bekerja menggunakan mobil.

Kini, Rika harus menghadapi kehidupan tanpa suaminya sekaligus memikirkan masa depan kedua anak mereka. Ia mengaku belum memiliki rencana pasti, tetapi mempertimbangkan untuk kembali bekerja setelah lama menjadi ibu rumah tangga. Rika diketahui merupakan lulusan pendidikan bidan.

Jenazah Hardiansyah dimakamkan pada Jumat sore setelah azan Ashar di pemakaman yang berada tidak jauh dari rumahnya.

Pemerintah Minta Penyebab Kematian Tidak Disimpulkan Sepihak

Kabar meninggalnya Hardiansyah ramai dibicarakan di media sosial. Sejumlah warganet menduga paparan asap karhutla menjadi penyebab kematiannya, terutama karena ia memiliki riwayat asma dan kerap beraktivitas di tengah kabut asap.

Namun, Gubernur Sumatra Selatan Herman Deru mengingatkan bahwa penyebab kematian tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan dugaan. Menurutnya, diperlukan pemeriksaan medis untuk memastikan faktor yang menyebabkan seseorang meninggal dunia.

Ia menyatakan bahwa penyebab kematian tidak bisa dipastikan tanpa pemeriksaan yang sesuai, termasuk autopsi apabila diperlukan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Sumatra Selatan, dr. Farida Aryani, juga menyebut pihaknya belum menerima laporan yang memastikan penyebab kematian Hardiansyah.

Farida menjelaskan bahwa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dapat dipicu berbagai faktor, seperti infeksi bakteri atau virus, kondisi gizi yang memburuk, serta iritasi pada saluran pernapasan. Karena itu, penyebab penyakit maupun kematian seseorang perlu ditentukan melalui pemeriksaan medis.

Ia menyarankan warga yang memiliki penyakit penyerta agar segera memperoleh penanganan di rumah sakit apabila mengalami gangguan kesehatan. Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan juga menyediakan program layanan kesehatan gratis bagi warga yang tidak memiliki BPJS Kesehatan.

Kualitas Udara Palembang Masuk Kategori Berbahaya

Dampak karhutla di Sumatra Selatan dilaporkan meluas ke berbagai kabupaten dan kota. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan atau Sipongi yang dikutip dalam laporan tersebut, tercatat 2.041 titik panas di Sumatra Selatan hingga 6 Oktober 2026. Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin disebut sebagai wilayah dengan sumber asap terbanyak.

Sementara itu, data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup pada pukul 15.00 WIB, 6 Oktober 2026, menunjukkan kualitas udara di Sumatra Selatan berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.

Palembang tercatat memiliki nilai ISPU mencapai 832. Angka tersebut masuk kategori berbahaya bagi kesehatan dan menunjukkan seriusnya kondisi udara yang dihadapi masyarakat.

Situasi ini turut memicu aksi demonstrasi ratusan mahasiswa di kantor Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan pada Senin (5/10/2026). Mereka mendesak pemerintah mengambil langkah nyata untuk menangani kebakaran hutan dan lahan beserta dampaknya terhadap masyarakat.

Tata Kelola Lingkungan Kembali Menjadi Sorotan

Selain persoalan kualitas udara dan kesehatan masyarakat, organisasi masyarakat sipil menilai karhutla yang terus berulang tidak semata-mata disebabkan oleh faktor cuaca. Mereka menyoroti lemahnya perlindungan lingkungan serta tata kelola ekosistem gambut yang dinilai turut memperburuk situasi.

Analisis citra satelit yang dirujuk dalam laporan tersebut menunjukkan bahwa hampir sepertiga titik sumber asap berada di wilayah konsesi perusahaan. Temuan ini kembali memunculkan perhatian terhadap pengelolaan lahan dan tanggung jawab pihak-pihak yang beroperasi di kawasan rawan kebakaran.

Di sisi lain, pemerintah dan aparat penegak hukum menyatakan telah melakukan penyelidikan terhadap kasus pembakaran hutan dan lahan, baik yang diduga melibatkan perorangan maupun korporasi.

Bagi Rika, penanganan karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan keluarga dan masyarakat yang setiap hari harus beraktivitas di tengah udara tercemar.

Ia berharap kejadian yang menimpa suaminya tidak kembali terulang, terutama pada warga yang memiliki penyakit bawaan dan kelompok rentan lainnya.

Meski hubungan langsung antara asap karhutla dan kematian Hardiansyah belum dipastikan secara medis, kasus tersebut memperlihatkan besarnya kekhawatiran masyarakat terhadap dampak kabut asap. Penanganan kebakaran, pemulihan kualitas udara, serta perlindungan kesehatan warga menjadi persoalan mendesak di wilayah yang masih terdampak.

Bagikan
ads image
ads image
ads image
Artikel Terkait
Pemerintah Belum Tetapkan Karhutla sebagai Bencana Nasional, Ini Penjelasannya.
Berita

Pemerintah Belum Tetapkan Karhutla sebagai Bencana Nasional, Ini Penjelasannya

Horas! Pemerintah belum berencana menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana...

Asap tebal menyelimuti Singapura jelang GP F1 (dok via Reuters).
Berita

Asap Karhutla Indonesia Selimuti Singapura Jelang F1, Kemenhut Perkuat Penanganan Api

Horas! Kabut asap yang menyelimuti Singapura menjelang gelaran Formula 1 (F1) Grand...

Ranking FIFA Oktober 2026: Indonesia Peringkat Ketiga di ASEAN.
Berita

Ranking FIFA Oktober 2026: Indonesia Peringkat Ketiga di ASEAN

Horas! Timnas Indonesia mengalami peningkatan dalam daftar ranking FIFA terbaru yang dirilis...

Lionel Messi Akhiri Perjalanan 21 Tahun Bersama Timnas Argentina.
Berita

Lionel Messi Pensiun, Akhiri Perjalanan 21 Tahun Bersama Timnas Argentina

Horas! Perjalanan panjang Lionel Messi bersama Timnas Argentina akhirnya mencapai penghujung. Laga...