Horas!
Di tengah semakin langkanya orang yang mampu membaca dan menulis Aksara Batak Toba, sosok Saut Nainggolan hadir membawa harapan. Di usianya yang telah menginjak 72 tahun, ia aktif membagikan pengetahuan tentang aksara warisan leluhur melalui siaran langsung di media sosial seperti TikTok dan YouTube.
Melalui akun TikTok @saut07_ dan YouTube @sautnainggolan, Saut rutin mengajarkan dasar-dasar Aksara Batak Toba kepada para penonton. Dalam setiap siarannya, ia tampil dengan peci dan ulos sebagai simbol identitas dan kebanggaan budaya Batak Toba yang terus ia jaga.
Profil Saut Nainggolan
Saut lahir pada 10 Desember 1954 di Desa Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara. Ia merantau ke Pekanbaru sejak 1979 karena keterbatasan lahan di kampung halamannya. Kini, ia menetap di sana bersama keluarga, dengan enam anak dan dua belas cucu.
Meski hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar, kecintaannya terhadap Aksara Batak Toba sudah tumbuh sejak kecil. Ia bahkan telah mempelajari aksara tersebut sebelum masuk sekolah formal. Pengetahuan itu diwariskan langsung dari neneknya yang dikenal sebagai pengajar aksara Batak pada masanya.
Keterbatasan ekonomi membuat Saut tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Ia memilih mengalah demi adik-adiknya agar tetap bisa bersekolah. Namun, hal itu tidak menghalangi semangatnya untuk terus menjaga dan mengembangkan pengetahuan tentang Aksara Batak Toba.
Upaya Saut untuk mewariskan ilmu ini kepada generasi penerus sempat menghadapi tantangan. Meski pernah memiliki anak yang juga mahir, takdir berkata lain. Kini, ia juga mengajarkan kepada cucunya, meski belum sepenuhnya berhasil.
Melihat minimnya edukasi yang jelas tentang Aksara Batak Toba di media sosial, Saut akhirnya mengambil inisiatif sendiri. Sejak 2021, ia mulai melakukan siaran langsung secara rutin, biasanya dua kali dalam seminggu, untuk mengajarkan mulai dari huruf hingga cara membaca aksara tersebut.
Dalam setiap sesi, ia menggunakan papan tulis dan metode pengajaran yang sistematis layaknya guru di kelas. Ia juga membuka ruang diskusi bagi penonton untuk bertanya, bahkan mengulang penjelasan jika ada yang belum memahami.
Menurut Saut, mempelajari Aksara Batak Toba memang tidak mudah bagi pemula. Namun dengan dasar yang tepat dan kemauan yang kuat, siapa pun bisa memahaminya.
Selama aktif di media sosial, ia merasakan antusiasme yang cukup tinggi dari para penonton. Banyak yang mengapresiasi metode pengajarannya yang jelas dan mudah dipahami. Bahkan, tak sedikit yang memberikan dukungan melalui fitur koin saat siaran berlangsung.
Warisan Yang Harus Dijaga
Bagi Saut, Aksara Batak Toba adalah warisan berharga yang harus dijaga. Ia tidak ingin pengetahuan ini hilang seiring waktu. Selain mengajar secara daring, ia juga telah menulis buku berjudul Manurat Dohot Manjaha Surat Batak Toba sebagai media pembelajaran bagi masyarakat luas.
Di usia senjanya, Saut tetap aktif berbagi ilmu demi memastikan warisan leluhur tetap hidup. Kisahnya menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk berkarya, serta menjadi inspirasi bagi generasi muda agar terus menjaga dan melestarikan budaya sendiri.


