Horas!
Meski banyak yang bangga akan identitas kemartabatan suku Batak, pemahaman mendalam tentang Debata Mulajadi na Bolon sering kali masih minim. Selama berabad-abad, figur ini kerap disalahpahami sebagai sekadar mitos masa lalu yang harus ditinggalkan. Padahal, jika ditelaah lebih jauh, sejarah Batak Toba menyimpan konsep ketuhanan (monoteisme) yang sangat mendalam, jauh sebelum masuknya agama-agama samawi.
Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai entitas spiritual tertinggi dalam budaya Batak tersebut:
1. Mematahkan Stigma Sejarah
Di masa lalu, peneliti Eropa bernama H. N. van der Tuuk pernah keliru menyimpulkan bahwa suku Batak tidak memiliki konsep ketuhanan. Namun, studi modern—seperti jurnal Konstruksi Pemahaman Kontekstual pada Suku Batak Toba karya Carel Hot Asi Siburian—membuktikan hal sebaliknya. Leluhur Batak sejatinya sudah sejak lama meyakini keberadaan entitas tunggal dan universal yang menjadi penguasa alam semesta.
2. Sang Pencipta yang Abadi dan Tertinggi
Dalam teologi Batak, Debata Mulajadi Na Bolon diyakini sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Berikut adalah beberapa karakteristik utamanya:
- Abadi: Dikenal dengan sebutan Debata na so marmula, na so marujung (Tuhan yang tidak berawal dan tidak berakhir).
- Penguasa Tertinggi: Posisinya berada di atas dewa-dewa lain seperti Batara Guru, Soripada, dan Mangala Bulan.
- Sumber Segala Sesuatu: Mendapat gelar Ompu Raja Mulamula, yang berarti Ia adalah akar atau sumber dari segala ciptaan di dunia.
- Tuhan yang Personal: Teolog Anicetus B. Sinaga menyebut-Nya sebagai “The High God” atau Allah Tinggi, yang bermakna Ia adalah entitas yang memiliki kehendak dan sifat, bukan sekadar kekuatan abstrak semesta. Sifat-Nya imanen (hadir di tengah ciptaan) sekaligus transenden (melampaui segalanya).
3. Penyelarasan dengan Nilai-Nilai Kristen
Sejak tahun 1938, tokoh seperti Pendeta Hercules Marbun telah berupaya menyelaraskan ajaran Kristen dengan kearifan lokal Batak. Hal ini bertujuan agar nilai religius dapat membaur tanpa menghapus identitas adat. Ada dua benang merah utama antara Kristus dan Debata Mulajadi na Bolon:
- Kedekatan dengan Ciptaan (Imanensi): Keduanya tidak digambarkan sebagai entitas yang jauh, melainkan sangat dekat dan peduli dengan ciptaan-Nya.
- Peran sebagai Penghubung: Dalam Kristen, Kristus adalah jalan. Sementara dalam mitologi Batak, Sang Pencipta digambarkan melalui simbol Pohon Kehidupan atau Pohon Kosmos.
4. Filosofi Pohon Kosmos dan Tiga Dimensi Kehidupan
Menurut penelitian Philip Lumbantobing (1963), Debata Mulajadi na Bolon sering direpresentasikan sebagai Pohon Kosmos yang megah. Pohon ini bukan tanaman biasa, melainkan simbol yang menghubungkan tiga dimensi (Banua) kehidupan masyarakat Batak:
- Banua Ginjang (Dunia Atas): Singgasana Sang Pencipta dan mata air dari segala kehidupan.
- Banua Tonga (Dunia Tengah): Alam realitas tempat manusia dan makhluk hidup lainnya berdiam.
- Banua Toru (Dunia Bawah): Fondasi yang bertugas menjaga keseimbangan seluruh dimensi kehidupan.
Melalui pemahaman tentang Debata Mulajadi na Bolon, terbukti bahwa leluhur Batak bukanlah masyarakat yang tidak ber-Tuhan. Mereka justru memiliki warisan spiritualitas dan fondasi teologis yang sangat kaya dalam memaknai kehidupan serta alam semesta.


