Horas!
Opera Batak merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional yang menjadi bagian penting dari kebudayaan Batak di Sumatera Utara. Seni ini dinilai sebagai media pelestarian budaya yang menggabungkan musik, tarian, dan cerita rakyat dalam satu panggung pertunjukan.
Salah satu tokoh yang aktif menjaga keberlangsungan Opera Batak adalah Thompson HS. Bersama sastrawan Sitor Situmorang, Lena Simanjuntak, dan Barbara Brouwer, ia mendirikan Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) di Pematangsiantar pada 2005 sebagai langkah revitalisasi seni pertunjukan tradisional tersebut.
Muncul Sejak Awal Abad ke-20
Menurut Thompson, tidak ada catatan pasti mengenai awal mula lahirnya Opera Batak. Namun sejumlah arsip menunjukkan keberadaannya sudah tercatat sejak sekitar tahun 1926 hingga 1927.
Salah satu arsip yang pernah ditemukan menyebut grup Opera Batak Sitamiang di kawasan Pulau Samosir telah menerima honor pertunjukan pada tahun 1927. Hal itu menjadi bukti bahwa Opera Batak sudah berkembang dan tampil dari kampung ke kampung sejak masa lampau.
Sempat Surut pada Era 1980-an
Opera Batak pernah mencapai masa kejayaan dengan lebih dari 30 kelompok pertunjukan yang aktif di berbagai daerah Sumatera Utara. Namun memasuki tahun 1980-an, popularitasnya mulai menurun.
Berkurangnya panggung pertunjukan dan minat penonton membuat banyak grup Opera Batak berhenti beroperasi. Kondisi ini kemudian mendorong munculnya gerakan revitalisasi budaya.
Revitalisasi dan Kebangkitan Kembali
Upaya menghidupkan kembali Opera Batak mulai dilakukan pada 2002 melalui program revitalisasi di Tarutung. Dari program tersebut lahir berbagai inisiatif baru, termasuk pembentukan PLOt di Pematangsiantar.
Saat ini, terdapat sekitar enam grup Opera Batak yang masih aktif, tersebar di sejumlah daerah seperti Samosir, Siborongborong, dan Balige. Meski belum sekonsisten generasi terdahulu, keberadaan mereka menjadi tanda bahwa Opera Batak masih terus bertahan.
Tiga Unsur Utama Opera Batak
Opera Batak memiliki tiga elemen utama yang menjadi dasar pertunjukannya, yakni musik, tarian, dan lakon cerita.
Cerita yang dibawakan umumnya berasal dari legenda maupun kisah rakyat Batak. Tarian yang ditampilkan merupakan hasil kreasi yang terinspirasi dari ritual dan tari tradisional, sementara musiknya memadukan alat musik khas Batak dengan nuansa dramatik pertunjukan.
Berbagai unsur budaya lain seperti upacara adat dan simbol tradisi juga sering menjadi bagian penting dalam pertunjukan Opera Batak.
Resmi Jadi Warisan Budaya Tak Benda
Pada 22 Agustus 2024, Opera Batak resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI).
Penetapan ini menjadi langkah penting dalam menjaga eksistensi Opera Batak di tengah perkembangan zaman. Dukungan pemerintah dan masyarakat diharapkan mampu membawa seni pertunjukan ini dikenal lebih luas, bahkan hingga mendapat pengakuan dunia seperti opera dari negara lain.
Harapan untuk Masa Depan
Pelestarian Opera Batak tidak hanya menjaga sebuah pertunjukan seni, tetapi juga mempertahankan identitas budaya masyarakat Batak. Melalui regenerasi pelaku seni dan dukungan berbagai pihak, Opera Batak diharapkan terus hidup dan berkembang sebagai warisan budaya yang membanggakan Indonesia.


