Pemberian gelar kehormatan Batak kepada Lee Kwan Yew (via The Straits Times 1 Juni 1973).
Pemberian gelar kehormatan Batak kepada Lee Kwan Yew (via The Straits Times 1 Juni 1973).
Beranda Budaya Lee Kuan Yew dan Tanah Batak, Pernah Dapat Gelar Kehormatan pada 1973
Budaya

Lee Kuan Yew dan Tanah Batak, Pernah Dapat Gelar Kehormatan pada 1973

Bagikan

Horas!

Lee Kuan Yew dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Asia Tenggara. Sosok yang disebut sebagai Founding Father Singapura itu berperan besar dalam perjalanan dan perkembangan negara tersebut sejak masa awal kemerdekaannya.

Meski identik dengan Singapura, Lee Kuan Yew ternyata memiliki hubungan historis dengan Indonesia. Jejak tersebut bahkan berkaitan dengan latar belakang keluarganya hingga kunjungannya ke Sumatera Utara pada 1973.

Dikutip dari BBC, kakek dan nenek Lee Kuan Yew diketahui berasal dari Semarang, Jawa Tengah. Lee sendiri lahir pada 1923 di kawasan Kampong Java Road, Singapura, yang memiliki keterkaitan dengan komunitas Jawa di negeri tersebut.

Hubungannya dengan Indonesia tidak berhenti pada jejak keluarga. Ketika telah menjadi tokoh penting Singapura, Lee Kuan Yew juga pernah berkunjung ke Sumatera Utara dan mendapat penghormatan khusus dari masyarakat Batak.

Lee Kuan Yew Berkunjung ke Sumatera Utara pada 1973

Kunjungan Lee Kuan Yew ke Sumatera Utara berlangsung selama empat hari, yakni pada 28-31 Mei 1973.

Mengutip artikel Wartawan2 Medan Sambut Sifat PM Lee yg Senantiasa Mesra yang dimuat surat kabar Berita Harianpada 10 Juni 1973, kegiatan Lee selama berada di Sumatera Utara berpusat di Medan dan kawasan Danau Toba.

Kedatangannya ketika itu mendapat sambutan dari sejumlah pejabat daerah. Salah satunya Gubernur Sumatera Utara saat itu, Marah Halim.

Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda diplomatik atau perjalanan kenegaraan. Lee juga mendapat kesempatan untuk berinteraksi dengan masyarakat serta mengenal lebih dekat budaya Batak.

Dianugerahi Gelar Kehormatan oleh Masyarakat Batak

Salah satu bagian menarik dari kunjungan Lee Kuan Yew terjadi ketika dirinya menerima gelar kehormatan dari masyarakat Batak.

Berdasarkan artikel Sejenak Nikmati Keindahan di Danau Toba yang terbit di Berita Harian pada 3 Juni 1973, Lee datang bersama istri dan putrinya.

Pada malam pertama kunjungannya di Medan, Lee disebut menerima gelar “Raja Batak”. Gelar tersebut dianugerahkan oleh ketua masyarakat dari daerah Simalungun.

Prosesi penghormatan kemudian berlanjut pada hari berikutnya. Rombongan Lee Kuan Yew bertolak menuju Pulau Samosir di kawasan Danau Toba.

Di pulau tersebut, kembali digelar prosesi adat untuk menganugerahkan gelar kehormatan kepada Lee. Acara itu menarik perhatian masyarakat setempat. Ribuan warga disebut turut hadir untuk menyaksikan prosesi tersebut.

Pemberian gelar itu menjadi salah satu momen unik dalam hubungan Lee Kuan Yew dengan masyarakat di Sumatera Utara.

Terkesan dengan Danau Toba

Selama berada di kawasan Danau Toba dan Pulau Samosir, Lee Kuan Yew memberikan kesan positif terhadap apa yang dilihatnya.

Ia menilai kawasan Danau Toba dan Samosir memiliki potensi yang menarik untuk dikembangkan. Keindahan alam kawasan tersebut menjadi salah satu hal yang menarik perhatian tokoh Singapura itu.

Kunjungan tersebut juga meninggalkan kesan bagi para wartawan lokal yang meliputnya.

Para jurnalis, khususnya yang berasal dari Medan, disebut cukup terkesan dengan sikap Lee yang terbuka dalam menjawab pertanyaan. Ia bersedia berinteraksi dan melayani pertanyaan wartawan selama kunjungannya.

Jejak Hubungan Lee Kuan Yew dengan Indonesia

Kisah Lee Kuan Yew di Sumatera Utara pada 1973 menunjukkan adanya hubungan yang lebih luas antara tokoh Singapura tersebut dengan Indonesia.

Selain memiliki jejak keluarga yang berasal dari Semarang, Lee juga pernah berinteraksi langsung dengan masyarakat di Sumatera Utara dan menerima penghormatan adat dari masyarakat Batak.

Pemberian gelar “Raja Batak” serta kunjungannya ke Samosir menjadi bagian menarik dari catatan sejarah hubungan Lee Kuan Yew dengan Indonesia.

Bagi masyarakat Batak, peristiwa tersebut juga menjadi salah satu catatan unik mengenai bagaimana tokoh penting dari negara tetangga pernah mendapat penghormatan melalui tradisi adat di Tanah Batak.

Bagikan
ads image
ads image
ads image
Artikel Terkait
Mengenal Batakhaus, Rumah Batak di Jerman yang Diinisiasi Seorang Pastor.
Budaya

Mengenal Batakhaus, Rumah Batak di Jerman yang Diinisiasi Seorang Pastor

Horas! Rumah adat Batak yang dikenal sebagai Rumah Bolon identik dengan bentuk rumah panggung...

BRIN Digitalisasi Ratusan Pustaha Batak untuk Merawat Jejak Tradisi Intelektual.
Budaya

BRIN Digitalisasi Ratusan Pustaha Batak untuk Merawat Jejak Tradisi Intelektual

Horas! Upaya menjaga warisan intelektual masyarakat Batak terus dilakukan melalui digitalisasi pustaha...

Jejak Tabib dalam Sejarah Pengobatan Tradisional di Sumatera Utara.
Budaya

Jejak Tabib dalam Sejarah Pengobatan Tradisional di Sumatera Utara

Horas! Jauh sebelum rumah sakit dan obat-obatan modern berkembang seperti sekarang, masyarakat...

Ilustrasi pengantin suku Batak Mandailing.
Budaya

Mengenal Mangido Bantu, Tradisi Saling Menolong dalam Pernikahan Batak Mandailing

Horasa! Pernikahan bagi masyarakat Batak Mandailing bukan hanya menjadi momen penyatuan dua...