Ruhut Marsuan: Tradisi Menanam Padi ala Toba yang Sarat Makna.
Ruhut Marsuan: Tradisi Menanam Padi ala Toba yang Sarat Makna.
Beranda Budaya Ruhut Marsuan: Tradisi Menanam Padi ala Toba yang Sarat Makna
Budaya

Ruhut Marsuan: Tradisi Menanam Padi ala Toba yang Sarat Makna

Bagikan

Horas!

Dongan BK, Indonesia dikenal sebagai negara dengan keberagaman suku dan bahasa terbanyak di dunia. Kekayaan budaya ini menjadi identitas yang membedakan Indonesia dari negara lainnya, sehingga banyak wisatawan mancanegara yang datang bukan hanya untuk menikmati alam, tetapi juga mempelajari aneka tradisi lokal.

Salah satu suku dengan tradisi yang kuat adalah Suku Batak di Provinsi Sumatera Utara. Selain karakter masyarakatnya yang tegas dan lugas, suku ini menyimpan banyak kebiasaan unik yang diwariskan turun-temurun. Tidak hanya dalam relasi sosial, budaya Batak juga menaruh perhatian besar terhadap hubungan manusia dengan alam.

Salah satu tradisi itu adalah Ruhut Marsuan, tata cara menanam padi khas masyarakat Toba yang masih dijaga hingga kini. Ritual ini bukan sekadar aktivitas bercocok tanam, tetapi juga bentuk penghormatan kepada alam dan nilai kebersamaan.

1. Mambatangi Aek: Membuka Jalur Air

Tahap pertama dalam proses Marsuan adalah Mambatangi Aek, yaitu membuat aliran air kecil di lahan yang akan ditanami padi. Biasanya dikerjakan oleh dua orang dalam satu petak sawah.

Jalur ini nantinya menjadi tempat pemilik sawah melakukan Mangaliplip, yakni tradisi mengusir tikus. Selain sebagai saluran air, Batangi Aek juga memudahkan pemilik sawah dalam menghalau hama agar tidak merusak padi.

2. Mengundang Parsuan untuk Menanam

Setelah lahan siap, pemilik sawah akan memanggil para Parsuan, yaitu orang-orang yang berpengalaman menanam padi. Jumlah mereka disesuaikan dengan jumlah orang yang mengolah tanah atau Pangula.

Misalnya, jika ada 20 Pangula yang mencangkul sawah secara konvensional, maka diperlukan pula 20 Parsuan untuk menanam.

Saat menanam padi, para Parsuan bergerak mundur agar tidak merusak padi yang telah mereka tanam. Untuk meringankan rasa lelah karena terus membungkuk, mereka biasanya saling bercanda dan bertegur sapa sepanjang bekerja.

3. Siklus Pertumbuhan Padi dan Pantangan Adat

Proses Marsuan hingga panen berlangsung sekitar lima bulan. Dalam rentang tersebut, setiap fase pertumbuhan padi memiliki sebutannya sendiri:

  • 2,5 bulan – Buhu Tano
  • 3 bulan – Boltok
    Pada fase Boltok, masyarakat dilarang membuat Buni Bunian (keramaian) atau mengadakan acara adat, terutama Margondang.
    Menurut kepercayaan, suara gondang yang sakral dapat mengundang Parditoru (hama tikus) menyerang tanaman padi.
  • 3,5 bulan – Basbas
  • 4 bulan – Munduk
  • 4,5 bulan – Bontar Punsu

Memasuki bulan kelima, padi dinyatakan siap dipanen.

Bagikan
ads image
ads image
ads image
Artikel Terkait
Potret titik nol Kota Medan di masa lampau (colorized by AI).
Budaya

Berawal Dari Belanda, Ternyata Ini Kisah Kedatangan Orang Batak ke Kota Medan

Horas! Kota Medan dikenal sebagai salah satu kota paling majemuk di Indonesia....

Mengapa Salam “Horas” Melekat dengan Medan?
Budaya

Mengapa Salam “Horas” Melekat dengan Medan? Begini Sejarah dan Latar Belakangnya

Horas! Kota Medan dikenal sebagai salah satu daerah di Indonesia yang identik...

Potret ulama Islam di Simalungun (dok.kitlv.nl, colorized by AI).
Budaya

Jejak Zending dan Sang Naualuh Damanik, Awal Tumbuhnya Toleransi di Tanah Simalungun

Horas! Wilayah Simalungun tidak hanya dikenal sebagai kawasan perkebunan yang berkembang pesat...

Sebuah rumah adat Simalungun di abad ke-20 (dok.kitlv.nl, colorized by AI).
Budaya

Pergeseran Agama dan Perubahan Sosial Pengaruhi Identitas Etnik Simalungun

Horas! Perubahan identitas etnik di tengah masyarakat Simalungun disebut tidak terlepas dari...