Aroma kopi dan semangat menjaga lingkungan berpadu di Desa Marancar Godang, Kecamatan Marancar, Tapanuli Selatan, Jumat (28/8/2026). Di tengah kawasan perkebunan kopi rakyat, Rumah Produksi Kopi atau Dry House resmi dibuka. Peresmian tersebut sekaligus menjadi momentum pelepasan ekspor perdana kopi Tapanuli Selatan ke Singapura.
Sebanyak 2,5 ton kopi hasil produksi dari empat Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dan satu Kelompok Tani Hutan (KTH) dikirim ke Singapura. Ekspor perdana ini menjadi langkah penting bagi petani Marancar untuk memperluas pasar kopi lokal ke tingkat internasional.
Ketua Panitia Pelaksana, Hendra Irawan Hasibuan, mengatakan keberhasilan kegiatan tersebut tidak terlepas dari kolaborasi empat LPHD dan satu KTH yang berada di wilayah Marancar.
Dalam kegiatan tersebut, tokoh masyarakat sekaligus mantan Bupati Tapanuli Selatan, Syahrul Pasaribu, juga mendapat apresiasi atas kontribusinya dalam mendorong kawasan Marancar berkembang sebagai wilayah yang menggabungkan konservasi alam dengan peningkatan ekonomi masyarakat.
Kopi dan Konservasi Berjalan Bersamaan
Direktur Green Justice Indonesia (GJI), Panut Hadisiswoyo, mengatakan perhatian terhadap Tapanuli Selatan tidak terlepas dari kekayaan alam yang dimiliki wilayah tersebut.
Salah satu kekayaan penting itu adalah Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), satwa endemik yang secara ilmiah diakui sebagai spesies tersendiri pada 2017 dan hanya ditemukan di kawasan tertentu di Tapanuli.
Menurut Panut, keberadaan kekayaan alam tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi seharusnya tidak harus mengorbankan lingkungan.
“Dunia mengenal kita karena kekayaan alam yang luar biasa. Namun kita harus membuktikan bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan lingkungan,” ujarnya.
Ia juga menilai kawasan Marancar memiliki ketahanan lingkungan yang cukup baik ketika menghadapi krisis iklim dan bencana. Kondisi tersebut tidak terlepas dari keberadaan ekosistem hutan yang masih terjaga.
Panut menyebut upaya membangun pola kehidupan yang selaras dengan alam telah dirintis sejak masa kepemimpinan Syahrul Pasaribu sebagai Bupati Tapanuli Selatan. Konsep tersebut kemudian didukung masyarakat, pemerintah desa, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), hingga pemerintah daerah.
Salah satu bentuknya adalah penerapan skema Wilayah Kelola Rakyat (WKR) dan Hutan Kemasyarakatan (HKm)yang memungkinkan masyarakat tetap mengembangkan sektor pertanian sembari menjaga kawasan hutan.
Dalam skema tersebut, kopi menjadi salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan.
Kini, petani tidak hanya mendapat dukungan berupa bibit unggul. Fasilitas Rumah Produksi Kopi dan mesin pengolahan juga telah tersedia, sementara akses pasar terbuka melalui pembeli dari Singapura serta pelaku usaha kopi di Medan.
Panut mengatakan kualitas kopi Tapanuli Selatan bahkan telah mendapat pengakuan di berbagai kesempatan, termasuk pernah disajikan dalam penerbangan Garuda Indonesia dan diperkenalkan dalam forum ekonomi Eropa.
Menurutnya, pengembangan kopi harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Masyarakat tidak cukup hanya menjual biji kopi mentah, tetapi perlu menghasilkan produk bernilai tambah yang mampu bersaing tanpa meninggalkan prinsip kelestarian lingkungan dan kearifan lokal.
Ia berharap model pengembangan ekonomi berbasis konservasi tersebut nantinya dapat diperluas ke daerah lain, termasuk Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah.
“Kita membangun ekonomi sekaligus menjaga alam. Bukan sekadar seremonial, tapi nyata dirasakan petani dan masyarakat,” katanya.
Syahrul Pasaribu: Alam Bukan Warisan, tetapi Pinjaman
Dalam sambutannya, Syahrul Pasaribu menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga lingkungan untuk generasi berikutnya.
Ia mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap tanah dan sumber daya alam. Menurutnya, alam tidak seharusnya dianggap sebagai warisan yang bebas digunakan tanpa batas.
“Dulu moto kita sering berbunyi, ‘Bumi dan air adalah warisan dari nenek moyang.’ Tapi saya mengubah pandangan itu menjadi, ‘Bumi dan air ini bukan warisan nenek moyang, melainkan pinjaman dari anak cucu kita,’” ujar Syahrul.
Menurut dia, istilah “warisan” dapat memberikan kesan bahwa seseorang memiliki kebebasan penuh untuk menggunakan sesuatu yang diterimanya. Sebaliknya, konsep “pinjaman” mengandung tanggung jawab untuk mengembalikannya dalam kondisi yang baik.
Prinsip tersebut, kata Syahrul, menjadi salah satu dasar dalam kebijakan pembangunan yang pernah dijalankannya ketika memimpin Tapanuli Selatan.
Salah satu contohnya adalah pengembangan energi terbarukan di desa-desa terpencil.
Selama sekitar 10 tahun masa kepemimpinannya, Tapanuli Selatan disebut berhasil membangun 26 unit pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Di wilayah yang tidak memiliki sumber air memadai, energi surya digunakan sebagai alternatif.
“Alhamdulillah, selama sepuluh tahun menjabat, kami berhasil membangun 26 unit mikrohidro. Jika tidak ada sumber air, kami ganti dengan tenaga surya, dari 5 titik berkembang menjadi 21 titik pembangkit terpusat,” katanya.
Kopi Tapsel Punya Jejak Panjang
Syahrul juga menyinggung sejarah kopi yang berkembang di kawasan Tapanuli Selatan.
Nama Kopi Mandailing memang telah lama dikenal hingga pasar Eropa. Namun, menurutnya, sebagian kopi berkualitas yang selama ini dikenal dengan label tersebut memiliki keterkaitan dengan wilayah Sipirok, terutama kopi Arabika Sipirok.
Kopi Arabika Tapanuli Selatan kini juga telah memiliki Sertifikat Indikasi Geografis (IG).
Namun, Syahrul mengingatkan bahwa status tersebut harus terus dijaga karena sertifikasi dapat dievaluasi kembali oleh Kementerian Hukum dan HAM.
“Kalau tidak lulus evaluasi, sertifikatnya bisa dicabut. Tolong hal ini diseriusi,” tegasnya.
Ia turut menyampaikan apresiasi kepada Green Justice Indonesia yang selama ini memberikan pendampingan kepada masyarakat dan penggiat kopi di wilayah tersebut.
Menurut Syahrul, perlindungan bentang alam Batang Toru juga harus menjadi perhatian bersama. Berbagai pihak yang beraktivitas di kawasan tersebut, termasuk perusahaan tambang, PLTA, PLTSi, hingga PTPN III, dinilai memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan lingkungan.
Ia berharap pemerintah daerah dapat terus memperluas program hutan sosial karena peluang pengembangannya masih terbuka luas.
Pemkab Tapsel Dorong Hilirisasi Kopi
Mewakili Bupati Tapanuli Selatan, Sekretaris Daerah Sofyan Adil mengatakan potensi kopi daerah tersebut sangat besar. Kualitas kopi Tapsel juga semakin dikenal oleh pasar yang lebih luas.
Namun, menurutnya, petani dan pelaku usaha tidak boleh berhenti pada penjualan green bean.
Pengembangan produk hingga tahap hilirisasi dinilai penting agar nilai ekonomi yang diterima masyarakat semakin besar.
“Rumah Produksi Kopi yang kita resmikan hari ini adalah langkah nyata dari komitmen pemerintah daerah untuk menaikkan derajat dan kualitas produk kopi lokal,” ujar Sofyan.
Ia berharap pendampingan terhadap petani dan penggiat kopi tidak berhenti setelah peresmian fasilitas tersebut.
Rumah Produksi Kopi, kata dia, bukan hanya bangunan untuk mengolah hasil panen. Fasilitas tersebut juga diharapkan menjadi pusat inovasi, tempat belajar, pengembangan kemasan, sekaligus ruang bagi masyarakat dan generasi muda untuk membangun usaha.
Tiga Pesan untuk Petani dan Pengelola
Sofyan menyampaikan tiga pesan utama kepada pengelola dan petani kopi.
Pertama, meningkatkan nilai tambah ekonomi. Petani diharapkan tidak hanya menjual hasil panen dalam bentuk bahan mentah, tetapi mulai mengembangkan produk siap konsumsi dengan nilai jual yang lebih tinggi.
Kedua, memperkuat pemberdayaan masyarakat dan UMKM. Rumah Produksi Kopi dapat dimanfaatkan sebagai ruang kolaborasi, tempat belajar, serta inkubator bagi pelaku ekonomi kreatif dan generasi muda.
Ketiga, menjaga konsistensi kualitas. Modernisasi fasilitas harus berjalan bersama dengan komitmen mempertahankan karakter dan cita rasa khas kopi Tapanuli Selatan agar kepercayaan pasar tetap terjaga.
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, lanjut Sofyan, akan terus mendukung pengembangan komoditas tersebut melalui kemudahan regulasi dan perluasan akses pasar.
Kopi dan Pariwisata untuk Pemulihan Ekonomi
Sofyan juga mengaitkan pengembangan kopi dengan potensi pariwisata di kawasan Batang Toru.
Ia menyinggung hasil diseminasi riset lanskap Batang Toru yang melibatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Sumatera Utara.
Menurutnya, selain hasil kajian mengenai lanskap dan lingkungan, hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana potensi tersebut dapat membantu pemulihan ekonomi masyarakat.
Tapanuli Selatan sempat mengalami tekanan ekonomi akibat bencana. Pertumbuhan ekonomi daerah pada Triwulan IV 2025 disebut turun dari 5,2 persen menjadi 2,4 persen.
Dalam kondisi tersebut, sektor pariwisata dan ekonomi berbasis lingkungan dinilai dapat menjadi salah satu penggerak pemulihan.
Kawasan Batang Toru memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Keberadaan Orangutan Tapanuli menjadi salah satu daya tarik utama, sementara kopi dapat dikembangkan melalui sistem agroforestri yang menjaga kelestarian lingkungan.
Wisatawan juga dapat menikmati pengalaman kuliner kopi secara langsung ketika berkunjung ke kawasan tersebut.
“Jaga lingkungan, maka lingkungan akan menjaga kita, demi masa depan generasi mendatang,” pesan Sofyan.
Ekspor Perdana 2,5 Ton Kopi Tapsel
Peresmian Rumah Produksi Kopi kemudian dilanjutkan dengan penanaman kopi secara simbolis oleh sejumlah tamu undangan.
Kegiatan tersebut diikuti Syahrul Pasaribu, Sekda Tapanuli Selatan Sofyan Adil, Direktur GJI Panut Hadisiswoyo, Kepala Dinas Pertanian, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Camat Marancar, serta sejumlah pihak lainnya.
Rumah Pengeringan Kopi kemudian diresmikan oleh Sekda Sofyan Adil mewakili Bupati Tapanuli Selatan bersama sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan.
Acara ditutup dengan pelepasan simbolis ekspor perdana 2,5 ton kopi Tapanuli Selatan ke Singapura.
Turut hadir Kepala Dinas Pertanian Muhammad Taufik Batubara, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Asrul Ali Siregar, perwakilan KPH X, Camat Marancar, kepala desa setempat, Ketua KNPI, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Ekspor perdana tersebut menjadi bukti bahwa kopi Tapanuli Selatan memiliki peluang menembus pasar internasional. Di saat yang sama, pengembangan kopi Marancar menunjukkan bahwa peningkatan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga hutan dan bentang alam Batang Toru.


