Jejak Sejarah Ikan Arsik sebagai Hidangan Sakral dalam Tradisi Batak.
Jejak Sejarah Ikan Arsik sebagai Hidangan Sakral dalam Tradisi Batak.
Beranda Kuliner Jejak Sejarah Ikan Arsik sebagai Hidangan Sakral dalam Tradisi Batak
Kuliner

Jejak Sejarah Ikan Arsik sebagai Hidangan Sakral dalam Tradisi Batak

Bagikan

Horas!

Dongan BK, ikan arsik merupakan salah satu kuliner paling ikonik dalam budaya Batak, khususnya Batak Toba. Hidangan khas Sumatera Utara ini dikenal luas melalui cita rasa rempahnya yang kuat, aroma khas andaliman, serta penyajian ikan yang utuh dari kepala hingga ekor. Namun, lebih dari sekadar makanan, ikan arsik menyimpan kisah panjang yang berkaitan erat dengan tradisi adat, kepercayaan, dan sistem sosial masyarakat Batak sejak masa lampau.

Berdasarkan kajian dalam Jurnal Gastronomi Indonesia yang membahas kuliner tradisional Batak Toba, penggunaan ikan mas dalam ikan arsik ternyata bukanlah praktik awal. Pada masa terdahulu, masyarakat Batak memanfaatkan ikan jurung, sejenis ikan air tawar yang hidup di perairan Danau Toba, terutama di kawasan Kabupaten Samosir dan sekitarnya.

Ikan jurung tidak dapat ditangkap secara bebas. Penangkapannya hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu dan umumnya berkaitan dengan pelaksanaan upacara adat. Karena nilai kesakralannya, ikan ini dikenal sebagai dekke si tiho, atau ikan yang disucikan, sehingga memiliki posisi istimewa dalam ritual adat Batak.

Masuknya Ikan Mas dan Perubahan Tradisi Kuliner

Peralihan bahan utama dalam pengolahan ikan arsik terjadi seiring berkembangnya budidaya ikan mas di Indonesia. Sejumlah literatur sejarah mencatat bahwa ikan mas mulai dibudidayakan secara luas di luar Pulau Jawa pada awal abad ke-20. Di Bukittinggi, Sumatera Barat, ikan mas diperkenalkan pada 1892 dan mulai dibudidayakan secara intensif sejak 1903.

Pada periode yang sama, ikan mas juga masuk ke wilayah Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Kehadiran ikan mas yang lebih mudah diperoleh ini secara perlahan memengaruhi tradisi kuliner masyarakat Batak, termasuk dalam pengolahan ikan arsik. Lambat laun, ikan mas menggantikan posisi ikan jurung dalam berbagai upacara adat.

Sejak saat itu, ikan arsik berkembang menjadi salah satu masakan adat paling penting dalam budaya Batak Toba. Hidangan ini tidak disajikan sebagai makanan harian, melainkan dipersiapkan secara khusus untuk momen-momen sakral seperti pernikahan, pesta tujuh bulan kehamilan (mambosuri), mangupa, pembaptisan anak, serta berbagai acara adat keluarga yang menandai fase penting kehidupan.

Makna Simbolik di Balik Ikan Arsik

Dalam pandangan budaya Batak, ikan arsik tidak hanya berfungsi sebagai sajian kuliner, tetapi juga sebagai simbol doa, restu, dan harapan baik bagi penerimanya. Hal ini mencerminkan eratnya hubungan antara makanan, spiritualitas, dan struktur sosial masyarakat Batak Toba, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai kajian etnografi kuliner Sumatera Utara.

Secara bahan, ikan arsik dibuat dari ikan mas yang dimasak dengan aneka rempah khas, dengan andaliman sebagai bumbu utama. Rempah asli Sumatera Utara ini memiliki cita rasa getir-pedas dan aroma yang tajam. Dalam proses pengolahan, andaliman dipadukan dengan berbagai bumbu lain agar menghasilkan rasa yang harmonis. Menariknya, ikan yang digunakan biasanya masih hidup saat akan dimasak, sebagai simbol kesegaran sekaligus bentuk penghormatan terhadap bahan makanan.

Aturan Penyajian yang Sarat Filosofi

Penyajian ikan arsik juga mengikuti aturan adat yang ketat. Ikan harus disajikan dalam kondisi utuh, lengkap dengan sisiknya, tanpa dipotong-potong. Keutuhan ini melambangkan perjalanan hidup manusia yang diharapkan berjalan lengkap dan tidak terputus. Pemotongan ikan dipercaya membawa makna simbolis yang kurang baik, terutama berkaitan dengan harapan akan keturunan.

Selain itu, ikan arsik disusun seolah-olah sedang berenang, dengan posisi kepala menghadap kepada orang yang menerima hidangan. Jika disajikan lebih dari satu ekor, seluruh ikan harus disusun sejajar. Tradisi ini dikenal sebagai dekke si mundur, yang mengandung doa agar keluarga penerima senantiasa berjalan seiring, sejalan, dan saling mendukung dalam kehidupan.

Melalui pemahaman sejarah, filosofi, dan tata cara penyajiannya, ikan arsik tidak hanya dipandang sebagai makanan khas, tetapi juga sebagai warisan budaya Batak Toba yang merepresentasikan nilai kebersamaan, spiritualitas, serta kearifan lokal yang terus dijaga hingga kini.

Bagikan
ads image
ads image
ads image
Artikel Terkait
Rekomendasi 5 Restoran Romantis di Medan.
Kuliner

Rekomendasi 5 Restoran Romantis di Medan untuk Para Pejuang Cinta

Horas! Cinta sering datang tanpa aba-aba. Ia hadir seperti senja yang tiba-tiba...

7 fakta menarik tentang Mie Gomak.
Kuliner

7 Fakta Menarik Mie Gomak, Spaghetti Batak yang Menggugah Selera

Horas! Setiap daerah di Indonesia memiliki kuliner yang bukan hanya menggugah selera,...

Manfaat andaliman bagi tubuh manusia.
HighlightKuliner

Rahasia Andaliman, “Merica Batak” yang Kaya Manfaat untuk Kesehatan Tubuh

Horas! Dongan BK, andaliman adalah rempah khas dari Tanah Batak yang menjadi...

Resep Tasak Telu, Kuliner Tradisional Khas Suku Karo.
Kuliner

Resep Tasak Telu, Kuliner Tradisional Khas Suku Karo

Horas! Mejuah-juah! Berwisata ke suatu daerah terasa belum lengkap tanpa mencicipi makanan...