Mengapa Salam “Horas” Melekat dengan Medan?
Mengapa Salam “Horas” Melekat dengan Medan?
Beranda Budaya Mengapa Salam “Horas” Melekat dengan Medan? Begini Sejarah dan Latar Belakangnya
Budaya

Mengapa Salam “Horas” Melekat dengan Medan? Begini Sejarah dan Latar Belakangnya

Bagikan

Horas!

Kota Medan dikenal sebagai salah satu daerah di Indonesia yang identik dengan salam “Horas”. Sapaan khas masyarakat Batak tersebut sering digunakan dalam berbagai acara resmi, penyambutan tamu, hingga promosi pariwisata. Padahal, jika ditelusuri dari sejarahnya, Medan berakar dari wilayah Kesultanan Deli yang merupakan pusat kebudayaan Melayu di Sumatera Timur.

Kota Medan Sebagai Pusat Kebudayaan

Budayawan Robert Sibarani menjelaskan bahwa Medan pada awalnya berkembang sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan Melayu Deli. Jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan melalui berbagai peninggalan bersejarah seperti Istana Maimun, Masjid Raya Al-Mashun, serta tradisi dan bahasa Melayu yang masih bertahan hingga sekarang.

Perubahan besar mulai terjadi pada akhir abad ke-19 ketika pemerintah kolonial Belanda menjadikan Medan sebagai pusat industri perkebunan, terutama tembakau. Pertumbuhan ekonomi yang pesat mendorong masuknya penduduk dari berbagai daerah ke kota ini.

Salah satu kelompok masyarakat yang datang dalam jumlah besar adalah etnis Batak, yang berasal dari berbagai subetnis seperti Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, dan Pakpak. Kehadiran mereka memberikan kontribusi penting dalam perkembangan sosial, ekonomi, pendidikan, hingga politik di Kota Medan.

Seiring bertambahnya jumlah penduduk Batak, unsur budaya mereka semakin terlihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kota. Salam “Horas” yang awalnya digunakan dalam lingkungan masyarakat Batak perlahan dikenal dan diterima oleh berbagai kalangan di Medan.

Dalam perkembangannya, penggunaan salam tersebut tidak lagi terbatas pada komunitas Batak. “Horas” mulai digunakan dalam berbagai kegiatan resmi, acara pemerintahan, penyambutan tamu, hingga kegiatan promosi daerah. Peran media massa dan sektor pariwisata juga turut memperkuat citra Medan sebagai kota yang identik dengan salam tersebut.

Meski demikian, identitas Melayu sebagai akar sejarah Kota Medan tetap bertahan. Tradisi kesultanan, adat istiadat, seni budaya, serta penggunaan bahasa Melayu masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat hingga saat ini.

Bukan Menghilangkan, Melainkan Akulturasi

Menurut Robert, dominannya simbol-simbol Batak di ruang publik bukan berarti menghilangkan identitas Melayu. Sebaliknya, hal itu mencerminkan proses pertemuan budaya yang terjadi selama puluhan tahun di Medan.

Keberagaman etnis yang hidup berdampingan telah membentuk karakter unik kota ini. Oleh karena itu, popularitas salam “Horas” lebih tepat dipahami sebagai simbol keterbukaan dan pluralitas masyarakat Medan, bukan sebagai pengganti identitas sejarah Melayu Deli yang menjadi fondasi awal berdirinya kota tersebut.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Medan berkembang sebagai kota multikultural yang dibangun oleh berbagai kelompok masyarakat. Di tengah keberagaman tersebut, salam “Horas” hadir sebagai salah satu simbol yang merepresentasikan semangat persaudaraan, penghormatan, dan kebersamaan yang hidup di Kota Medan hingga sekarang.

Bagikan
ads image
ads image
ads image
Artikel Terkait
Potret titik nol Kota Medan di masa lampau (colorized by AI).
Budaya

Berawal Dari Belanda, Ternyata Ini Kisah Kedatangan Orang Batak ke Kota Medan

Horas! Kota Medan dikenal sebagai salah satu kota paling majemuk di Indonesia....

Potret ulama Islam di Simalungun (dok.kitlv.nl, colorized by AI).
Budaya

Jejak Zending dan Sang Naualuh Damanik, Awal Tumbuhnya Toleransi di Tanah Simalungun

Horas! Wilayah Simalungun tidak hanya dikenal sebagai kawasan perkebunan yang berkembang pesat...

Sebuah rumah adat Simalungun di abad ke-20 (dok.kitlv.nl, colorized by AI).
Budaya

Pergeseran Agama dan Perubahan Sosial Pengaruhi Identitas Etnik Simalungun

Horas! Perubahan identitas etnik di tengah masyarakat Simalungun disebut tidak terlepas dari...

Mengenal Debata Mulajadi na Bolon: Konsep Ketuhanan Tertinggi dalam Budaya Batak (ilustrasi via Gemini AI).
Budaya

Mengenal Debata Mulajadi na Bolon: Konsep Ketuhanan Tertinggi dalam Budaya Batak

Horas! Meski banyak yang bangga akan identitas kemartabatan suku Batak, pemahaman mendalam...