Kekayaan budaya Batak Toba tidak hanya tercermin melalui adat istiadat, aksara, dan sistem kekerabatan, tetapi juga melalui beragam legenda yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu kisah yang menarik untuk ditelusuri adalah legenda Tuan Saribu Raja dan Siboru Pareme, yang berkaitan erat dengan asal-usul Si Raja Lontung serta sejumlah marga besar Batak Toba.
Kisah ini dikenal melalui tradisi lisan dan berbagai catatan mengenai tarombo atau silsilah masyarakat Batak. Di dalamnya terdapat cerita tentang hubungan terlarang antara saudara kandung, pengasingan, pertemuan dengan seekor harimau bernama Babiat Sitelpang, hingga kelahiran Si Raja Lontung yang kemudian dipercaya sebagai leluhur tujuh marga besar.
Cerita tersebut bukan sekadar kisah tentang tokoh-tokoh leluhur. Legenda ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Batak Toba mewariskan pengetahuan mengenai asal-usul marga, hubungan kekerabatan, norma adat, dan identitas keluarga melalui cerita lisan.
Asal-Usul Tuan Saribu Raja dan Siboru Pareme
Dalam silsilah tradisional Batak Toba, Tuan Saribu Raja atau Sariburaja merupakan salah seorang putra Guru Tatea Bulan, yang dikenal sebagai salah satu anak Si Raja Batak. Sementara itu, Siboru Pareme merupakan saudara perempuan Saribu Raja.
Buku Seri Rumah Peradaban Megalitik Samosir yang tersedia melalui repositori Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat kisah Sariburaja dan Siboru Pareme sebagai bagian dari folklor Batak. Keduanya disebut sebagai saudara kandung yang kemudian terlibat dalam hubungan yang melanggar norma kekerabatan.
Dalam versi cerita yang berkembang, Saribu Raja dan Siboru Pareme tumbuh bersama di lingkungan yang relatif terisolasi. Terbatasnya hubungan dengan masyarakat lain dalam kisah tersebut menjadi latar yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana keduanya akhirnya menjalin hubungan terlarang.
Hubungan itu kemudian diketahui oleh keluarga. Kehamilan Siboru Pareme membuat peristiwa yang sebelumnya tersembunyi tidak dapat lagi ditutupi.
Dalam masyarakat yang menempatkan aturan kekerabatan sebagai bagian penting dari kehidupan adat, hubungan sedarah tersebut digambarkan sebagai pelanggaran serius. Peristiwa itu memicu kemarahan keluarga dan melahirkan keputusan untuk menjatuhkan hukuman kepada keduanya.
Pengasingan Siboru Pareme ke Hutan Sabulan
Setelah hubungan terlarang mereka diketahui, Saribu Raja dan Siboru Pareme menghadapi konsekuensi berat. Dalam versi cerita yang menjadi dasar kisah ini, keluarga menetapkan hukuman mati bagi keduanya.
Namun, Siboru Pareme yang sedang mengandung tidak langsung dibunuh. Ia justru diasingkan ke kawasan hutan yang berada di sekitar Ulu Darat, di atas wilayah Sabulan, Samosir.
Tempat itu digambarkan sebagai kawasan hutan belantara yang berbahaya dan menjadi habitat berbagai satwa liar. Pengasingan tersebut dimaksudkan agar Siboru Pareme menghadapi nasibnya sendiri jauh dari lingkungan keluarga dan masyarakat.
Sementara itu, dalam sejumlah versi lain, Saribu Raja diceritakan meninggalkan kampung halaman atau diusir menuju Barus. Perbedaan detail ini menunjukkan bahwa kisah tersebut berkembang melalui tradisi lisan yang memiliki beberapa variasi.
Dalam penelitian mahasiswa Universitas Negeri Medan (UNIMED) mengenai legenda Si Raja Lontung, kawasan Ulu Darat dan Sabulan disebut sebagai bagian dari latar cerita Siboru Pareme. Penelitian tersebut juga menguraikan kisah hidupnya di hutan hingga kelahiran Si Raja Lontung.
Di tengah keterasingan itu, Siboru Pareme harus menghadapi kehamilan dan mempersiapkan kelahiran anaknya tanpa bantuan manusia lain. Namun, legenda ini kemudian menghadirkan sosok yang tidak terduga, yakni seekor harimau yang kelak menjadi pelindungnya.
Babiat Sitelpang, Harimau yang Menolong Siboru Pareme
Salah satu bagian paling dikenal dalam legenda Si Raja Lontung adalah pertemuan Siboru Pareme dengan Babiat Sitelpang.
Dikisahkan, suatu hari seekor harimau mendatangi Siboru Pareme. Awalnya, kehadiran satwa buas tersebut menimbulkan ancaman bagi perempuan yang sedang menjalani pengasingan. Akan tetapi, harimau itu tidak langsung menyerangnya.
Ketika harimau tersebut membuka mulutnya, Siboru Pareme melihat sepotong tulang yang tersangkut di bagian rahangnya. Ia kemudian memberanikan diri membantu mengeluarkan tulang tersebut.
Setelah pertolongan itu, harimau yang dikenal dengan nama Babiat Sitelpang tersebut diceritakan menjadi jinak dan bersahabat dengan Siboru Pareme.
Sejak saat itu, Babiat Sitelpang dalam legenda tersebut tidak lagi digambarkan sebagai ancaman. Harimau itu justru membantu Siboru Pareme bertahan hidup di tengah hutan dengan membawakan hasil buruannya. Ia juga menemani dan melindunginya hingga masa persalinan tiba.
Dalam kisah yang diteliti oleh UNIMED, Babiat Sitelpang digambarkan sebagai sosok yang menjaga Siboru Pareme selama tinggal di hutan dan mendampingi pertumbuhan Si Raja Lontung.
Kisah itu kemudian melahirkan kepercayaan yang berkembang dalam sebagian tradisi masyarakat bahwa keturunan Lontung memiliki hubungan khusus dengan harimau. Dalam tuturan tertentu, terdapat keyakinan bahwa keturunan tersebut tidak akan dimangsa harimau karena Babiat Sitelpang akan melindungi mereka.
Kepercayaan itu merupakan bagian dari legenda dan tradisi lisan, bukan fakta zoologis. Meski demikian, keberadaan kisah tersebut memperlihatkan bagaimana satwa liar dapat memperoleh makna simbolis dalam cerita asal-usul suatu kelompok masyarakat.
Kelahiran Si Raja Lontung dan Kehidupannya di Hutan
Setelah melalui masa kehamilan yang berat, Siboru Pareme melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Si Raja Lontung.
Si Raja Lontung dibesarkan di tengah hutan bersama ibunya dan Babiat Sitelpang. Karena jauh dari permukiman manusia, ia tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dari kehidupan masyarakat pada umumnya.
Dalam versi cerita tersebut, Siboru Pareme membesarkan anaknya sekaligus mengajarkan berbagai pengetahuan mengenai kehidupan bermasyarakat. Pengetahuan tentang hubungan keluarga, tata krama, dan aturan kekerabatan Batak menjadi bagian penting dari pendidikan yang ia berikan.
Siboru Pareme memahami bahwa anaknya kelak akan tumbuh dewasa dan membutuhkan kehidupan di luar hutan. Ia juga tidak ingin Si Raja Lontung mengalami penderitaan yang sama seperti yang pernah dialaminya.
Kehidupan di hutan bersama Babiat Sitelpang pun menjadi salah satu bagian penting dalam legenda ini. Harimau tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penyelamat pada awal cerita, tetapi juga digambarkan sebagai pendamping yang membantu Si Raja Lontung bertahan hidup.
Dalam kajian budaya, cerita tersebut turut memperlihatkan bagaimana pengetahuan tentang lingkungan, keberlangsungan hidup, dan hubungan manusia dengan alam hadir dalam tradisi lisan masyarakat Batak Toba.
Siasat Siboru Pareme untuk Mencarikan Istri bagi Anaknya
Seiring berjalannya waktu, Si Raja Lontung tumbuh menjadi seorang pemuda. Ia mulai memikirkan kehidupan berumah tangga dan bertanya kepada ibunya mengenai keluarga serta kampung halaman leluhurnya.
Si Raja Lontung memiliki keinginan untuk menikahi seorang perempuan yang menjadi pariban-nya. Dalam sistem kekerabatan Batak, istilah pariban berkaitan dengan hubungan kekerabatan yang dapat menjadi dasar pasangan perkawinan sesuai ketentuan adat.
Namun, Siboru Pareme menghadapi persoalan yang sulit. Ia mengetahui bahwa anaknya hidup terasing dan hampir tidak memiliki kesempatan untuk bertemu perempuan dari lingkungan kekerabatan yang sesuai.
Jika keadaan terus berlangsung, Si Raja Lontung dikhawatirkan akan hidup tanpa pasangan dan keturunan. Siboru Pareme pun memikirkan cara agar anaknya dapat menikah, tetapi ia tidak mengungkapkan identitas sebenarnya.
Dalam versi legenda ini, Siboru Pareme kemudian menyusun sebuah siasat. Ia memberikan sebuah cincin kepada Si Raja Lontung dan memintanya pergi ke sebuah tempat pengambilan air.
Ia mengatakan bahwa di sana Si Raja Lontung akan bertemu perempuan yang mirip dengan dirinya. Cincin tersebut harus dipasangkan ke jari perempuan itu untuk memastikan kesesuaian yang telah ia jelaskan.
Si Raja Lontung mempercayai perkataan ibunya. Ia pun berangkat mengikuti jalan yang ditunjukkan, tanpa mengetahui rencana yang sebenarnya sedang disiapkan Siboru Pareme.
Pertemuan di Tepian Air dan Perkawinan Terlarang Kedua
Dalam cerita yang dituturkan, Siboru Pareme mengambil jalan pintas agar tiba lebih dahulu di tempat yang dituju anaknya. Ia kemudian mengubah penampilannya hingga terlihat berbeda dan lebih muda.
Ketika Si Raja Lontung tiba, ia bertemu dengan seorang perempuan yang wajahnya sangat mirip dengan ibunya. Perempuan itu sebenarnya adalah Siboru Pareme yang sedang menyamar.
Si Raja Lontung lalu memasangkan cincin pemberian ibunya ke jari perempuan tersebut. Ketika cincin itu pas, ia semakin yakin bahwa perempuan yang ditemuinya adalah pariban yang selama ini diceritakan oleh ibunya.
Pertemuan itu berujung pada kesepakatan untuk menikah. Si Raja Lontung membawa perempuan tersebut ke tempat tinggalnya, tetapi kemudian mendapati bahwa ibunya tidak berada di sana.
Dalam versi cerita ini, Siboru Pareme telah pergi meninggalkan tempat tinggal mereka. Si Raja Lontung tidak mengetahui bahwa perempuan yang dinikahinya sebenarnya adalah ibu kandungnya sendiri.
Dengan demikian, legenda tersebut mengisahkan terjadinya hubungan sedarah untuk kedua kalinya dalam keluarga mereka. Jika hubungan pertama melibatkan Saribu Raja dan Siboru Pareme, hubungan kedua terjadi antara Siboru Pareme dan Si Raja Lontung.
Kisah ini menjadi bagian kontroversial dalam legenda asal-usul Lontung. Namun, sebagaimana banyak cerita rakyat tentang leluhur, peristiwa tersebut perlu dipahami dalam konteks narasi folklor yang menjelaskan asal-usul silsilah, bukan sebagai pembenaran terhadap hubungan yang melanggar norma kekerabatan.
Si Raja Lontung dan Keturunan Sembilan Bersaudara
Dalam legenda yang berkembang, perkawinan Si Raja Lontung dan Siboru Pareme kemudian melahirkan sembilan orang anak, terdiri dari tujuh putra dan dua putri.
Ketujuh putra tersebut dipercaya menjadi leluhur bagi tujuh marga besar yang dikenal dalam kelompok keturunan Lontung. Nama-nama mereka adalah sebagai berikut.
- Situmorang, dalam sejumlah silsilah disebut juga Ompu Tuan Situmorang.
- Sinaga Raja, yang menjadi leluhur marga Sinaga.
- Pandiangan, yang menjadi leluhur marga Pandiangan.
- Nainggolan, yang menjadi leluhur marga Nainggolan.
- Simatupang, yang menjadi leluhur marga Simatupang.
- Aritonang, yang menjadi leluhur marga Aritonang.
- Siregar, yang menjadi leluhur marga Siregar.
Selain tujuh putra, terdapat dua putri yang dalam beberapa sumber disebut Siboru Anak atau Amak Pandan dan Siboru Panggabean. Keduanya kemudian dikaitkan dengan garis keturunan Toga Sihombing dan Toga Simamora.
Nama serta pasangan kedua putri ini dapat ditemukan dalam variasi pencatatan silsilah. Karena itu, urutan nama dan hubungan perkawinannya tidak selalu ditulis dengan cara yang sama dalam setiap sumber.
Walaupun terdapat perbedaan detail, tujuh marga laki-laki dan hubungan kedua putri dengan Sihombing serta Simamora menjadi bagian penting dalam pemaknaan kelompok keturunan Lontung.
Makna Silsilah Lontung Sisia Sada Ina Pasia Boruna Sihombing-Simamora
Keturunan Si Raja Lontung dikenal melalui ungkapan “Lontung Sisia Sada Ina Pasia Boruna Sihombing-Simamora.”Ungkapan ini berkaitan dengan penggambaran sembilan anak yang berasal dari satu ibu, yakni tujuh putra dan dua putri, sekaligus mengingatkan bahwa garis keturunan kedua putri juga menjadi bagian dari silsilah tersebut.
Dalam tradisi Batak, tarombo bukan sekadar daftar nama leluhur. Silsilah membantu masyarakat mengenali hubungan antarmarga, memahami kedudukan dalam sistem kekerabatan, serta menentukan hubungan sosial dalam berbagai kegiatan adat.
Karena itu, pencantuman Sihombing dan Simamora dalam ungkapan tersebut memiliki arti tersendiri. Kedua garis keturunan itu tetap disebut bersama kelompok Lontung meskipun berasal dari hubungan perkawinan kedua putri Si Raja Lontung.
Sebuah catatan silsilah yang dihimpun melalui komunitas keturunan Si Raja Lontung juga memuat tujuh nama putra serta kedua putri dalam kelompok tersebut. Catatan itu menunjukkan bahwa urutan dan penamaan keturunan dapat menjadi bahan pembahasan di antara keluarga yang mempelajari tarombo.
Sementara itu, kajian dalam Jurnal Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga membahas hubungan Sariburaja, Si Boru Pareme, dan Si Raja Lontung dalam konteks pembentukan kelompok marga. Penelitian tersebut juga menekankan bahwa persebaran keturunan Lontung yang luas dapat membuat rincian silsilah berbeda di antara sumber dan kelompok masyarakat.
Perbedaan Versi Legenda dan Pentingnya Tradisi Lisan
Meskipun kisah Saribu Raja, Siboru Pareme, dan Si Raja Lontung telah dikenal luas, tidak semua sumber menyampaikan detail cerita dengan cara yang sama.
Dalam satu versi, Babiat Sitelpang merupakan harimau yang menyelamatkan dan mendampingi Siboru Pareme ketika ia diasingkan. Namun, buku Seri Rumah Peradaban Megalitik Samosir mencatat versi silsilah yang menyebut Babiat sebagai salah satu dari tiga anak Sariburaja dan Siboru Pareme, bersama Si Raja Lontung dan Si Raja Borbor.
Perbedaan ini penting karena menunjukkan bahwa satu nama dapat memiliki kedudukan berbeda dalam versi-versi folklor yang berkembang. Rincian mengenai jumlah anak, nama keturunan, dan hubungan antartokoh juga dapat berbeda ketika cerita diwariskan melalui jalur keluarga atau dicatat oleh penulis yang berlainan.
Penelitian berjudul Sastra Lisan “Aek Sipitudai” di Desa Aek Sipitudai, Kecamatan Sianjur Mula-Mula, Kabupaten Samosir turut menempatkan cerita mengenai Si Raja Lontung dalam kajian sastra lisan dan antropologi sastra. Penelitian itu membahas nilai budaya yang terkandung dalam tradisi lisan, termasuk nilai kekerabatan, religi, kehormatan, hukum atau konflik, serta hagabeon yang berkaitan dengan keturunan.
Dengan demikian, legenda ini sebaiknya tidak hanya diperlakukan sebagai cerita yang harus dicari satu versi paling benar. Ia juga merupakan bagian dari tradisi lisan yang merekam cara masyarakat menjelaskan asal-usul leluhur dan hubungan kekerabatan mereka.
Warisan Cerita yang Menjaga Ingatan tentang Leluhur
Legenda Tuan Saribu Raja dan Siboru Pareme menyimpan kisah yang penuh konflik, penderitaan, dan peristiwa yang melanggar norma adat. Di sisi lain, cerita ini juga menjadi salah satu narasi yang digunakan untuk menerangkan asal-usul Si Raja Lontung dan kelompok marga yang menghubungkan diri dengannya.
Pertemuan Siboru Pareme dengan Babiat Sitelpang, kehidupan Si Raja Lontung di hutan, hingga kisah kelahirannya memperlihatkan kuatnya unsur imajinatif dalam tradisi lisan Batak Toba. Sementara itu, daftar keturunan dan ungkapan Lontung Sisia Sada Ina Pasia Boruna Sihombing-Simamora memperlihatkan hubungan cerita tersebut dengan sistem silsilah dan identitas marga.
Bagi masyarakat yang mewarisinya, tarombo menjadi salah satu cara untuk mengenali hubungan keluarga dan menjaga ingatan mengenai leluhur. Oleh karena itu, dokumentasi cerita rakyat seperti ini penting dilakukan agar generasi muda dapat mengenal warisan budayanya sekaligus memahami bahwa tradisi lisan dapat memiliki beragam versi.
Pada akhirnya, legenda Saribu Raja dan Siboru Pareme bukan hanya kisah mengenai asal-usul keturunan. Ia juga menjadi bagian dari kekayaan folklor Batak Toba yang perlu dipelajari dengan memperhatikan konteks budaya, perbedaan sumber, dan kedudukannya sebagai cerita tradisional.


